Kupu-kupu dalam Kotak Kaca

kupu-kupu dalam kotak kaca

Judul                             : Kupu-kupu dalam kotak kaca

Penulis                         : Rahmat Hidayat, M. Aan Mansyur, Asha Ray, Muh. Fauzan Mukrim, Shanti Yani Natsir, Al Ilham R Rachomi, D. Hendiyanto, Bouraq Cambuq, Wahyu Chandra.

Penerbit                       : Ininnawa

Terbit                           : Januari 2005

Tebal                           : 168 hlm.

 

Saya tertarik membaca buku ini karena, pertama penulisnya adalah orang-orang Makassar, entah kenapa membaca buku hasil karangan orang-orang sedaerah itu selalu terasa keren, kedua karena salah satu penulisnya adalah Kak Aan, penulis idola saya. Saya selalu jatuh cinta kepada tulisan-tulisannya. Dan tulisannya dalam buku ini yang paling saya sukai.

 

Musim Gugur dalam Bingkai

Saya beranggapan cerita pendek ini seperti puisi, harus mencernanya baik-baik kemudian mengartikannya dan barulah mengerti.

 

Seorang perempuan yang sebagai objek lukisan berjudul Musim gugur dalam Bingkai kemudian merasa bosan karena hanya mengalami musim gugur saja, maka dia keluar mencari dan mencoba musim lain.

Ia tak tahu kemana kaki-kaki akan sampai, namun ia terus menapak-napak (hlm 44)

 

Maka dia menuju negeri puisi yang kala itusedang semi, tetapi negeri puisi sempit, dia sumpek.

Ia kembali menapak-napak entah kearah mana membawa pergi lara di mata (hlm45)

Kemudian dia pergi lagi menuju negara prosa yang dingin bersalju, namun di negeri prosa tidak ada yang bisa membagi hangat, dia kesepian dan ingin mati saja di negeri bersalju itu.

Darah terlalu merah bagi salju-salju. Aku tak boleh mati di sepi, katanya. Ia hanya butuh teman untuk tawa-tawa yang dirindu (hlm46)

 

Pada musim panas dia tiba di negeri drama, ngeri yang ramai. Suatu tempat yang dicari-carinya. Di negeri drama dia merasa aneh dengan orang-orang yang bertingkah laku seperti orang gila, saling membunuh satu sama lain, tertawa-tawa sambil membunuh. Dia menangis. Dia harus meningggalkan negeri sakit, negeri drama.

Waktu itu musim panas belum usai, ia berjalan meninggalkannegeri drama. Tapak-tapak kaki penuh darah tercetak di jalan-jalan. Jalan-jalan membawanyapergi, barangkali untuk pulang (hlm 48)

 

Catatan : Makna yang bisa saya petik adalah kita harus menjalani dan menikmati hidup yang telah kita lakoni, sebab belum tentu diluar sana ada yang bisa menerima atau bahkan kita yang tak bisa menerima keaddan luar. Sebab kemanapun kau pergi, ketempat asalmulah kau kembali.

 

Masih ada 17 cerita pendek lainnya yang dikemas semacam puisi essai, membacanya seakan berada dinegeri prosa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s