Sayap-sayap yang Patah

kahlil gibran

Judul                             : Sayap-sayap yang Patah

Penulis                         : Kahlil Gibran

Penerbit                       : Classic press

Terbit                           : 2003

Tebal                            : 131 hlm

 

Sayap-sayap yang patah, tertera di sampul bukunya #1 Buku terlaris dunia. Buku yang beberapa tahun saya abaikan sampai kini dia berubah warna menjadi kekuningan, tanpa merubah isinya. Tentu tidak…

Lalu siapa yang tidak mengenal Kahlil Gibran? Pujangga termahsyur di dunia. Julukan buku dan dirinyalah yang membuat saya barang sejenak saja melahap bukunya. Saya takut gila akibat tak sanggup menahan emosi membaca kalimat-kalimat romantisnya.

Sayap-sayap yang patah adalah kisah cinta sang pujangga yang berakhir tragis. Ini salah satu cinta yang mematahkan presepsi kita mengenai dongeng-dongeng yang selalu berakhir happy ending. Dengan kepiawaian sang pujangga menuliskan sosok kekasihnya, Selma, siapapun yang membacanya akan jatuh cinta dan perempuan akan iri.

Kesendirian itu memiliki tangan-tangan halus seperti sutera, tetapi dengan jemari-jemari yang kuat ia mencengkram hatiku dan membuatnya sakit dengan duka (hlm 9)

Sayap-sayap yang patah menceritakan bagaimana sang pujangga yang dulunya hanya berteman dengan dirinya sendiri akhirnya bertemu dengan Selma, sang pujaan hatinya

Apakah rohku dan roh Selma saling mengulurkan tangan terhadap satu sama lain pada hari kami bertemu itu, dan apakah kerinduan itu membuatku memandangnya sebagai wanita tercantik di bawah matahari? (hlm 22)

Ia menjadi sebuah buku yang halaman-halamannya dapat kupahami dan yang puji-pujiannya dapat kunyanyikan, tetapi yang tak pernah dapat kubaca hingga tuntas (hlm 27)

Kecantikannya adalah seperti pemberian puisi (hlm 29)

Lama-kelamaan seiring seringnya sang pujangga Kahlil gibran berkunjung ke rumah Selma, perasaan keduanya pun bertambah dan selaras.

Kami sama-sama diam, masing-masing menantikan yang lain bicara, tetapi perkataan bukanlah satu-satunya sarana pengertian diantara dua jiwa (hlm 35)

Walaupun kegelapan menyembunyikan pepohonan dan bunga-bungaan dari mata kita, ia takkan menyembunyikan kasih dari hati kita (hlm 36)

Adalah keliru menganggap bahwa kasih itu datang dari persahabatan dan masa pacaran yang lama. Kasih adalah anak dari kedekatan rohani dan kecuali kedekatan itu tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta dalam bertahun-tahun atau bahkan beberapa generasi (hlm 41)

Tetapi kenyataan berkata lain, dua insan yang dilanda asmara ini kemudian dipisahkan oleh tali perjodohan antara petinggi daerah dan ayah Selma yang mesti dikabulkan. Hati mereka diliputi rasa sakit.

Pandanglah aku, pelajarilah wajahku dan bacalah didalamnya apa yang ingin engkau ketahui dan yang tak dapat kuucapkan, pandanglah aku kekasihku (hlm 56)

Aku akan melakukan segala yang telah engaku ucapkan dan akan menjadikan jiwaku selimut jiwamu, dan hatiku tempat tinggal kecantikanmu dan dadaku kubur dukamu  (hlm 65)

Pada akhirnya, Selma pun menikah dengan Sang Uskup, namun gelora cinta tetap membara dihati dua insan ini, mereka kemudian sering bertemu secara diam-diam disuatu tempat.

Tak seorangpun tahu perjumpaan rahasia kami selain Allah serta kawanan burung-burung yang terbang diatas bait itu (hlm 104)

Pada akhirnya Selma kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki dari Sang Uskup tersebut. Tetapi lahirnya anak itu hanya sebentar, dia pergi meninggalkan dunia, Selma pun turut. Dan tinggallah sang pujangga dalam duka yang mendalam berteman sepi.

Sang dokter mengambil bayi itu dari lengan Selma, lalu ia berbisik kepada diri sendiri, “Ia adalah tamu yang segera pulang.” (hlm 126)

Engkau telah datang untuk membawaku pergi, anakku. Ayo anakku, tuntunlah aku dan marilah kita tinggalkan goa yang gelap ini (hlm 128)

Sang penggali kubur berdiri disamping. Kudekati dia dan bertanya, “Ingatkah kau dimana Farris Effandi-ayah Selma-dikuburkan?”

Ia memandangiku sejenak lalu menunjuk kuburan Selma dan berkata, ‘Ya disini juga, kutempatkan puterinya diatasnya dan diatas dada puterinya, kuletakkan anaknya, diatasnya semua kututup dengan tanah.”

Lalu aku berkata,”Di dalam lubang ini engkau juga telah mengubur hatiku.”

 

Tunggu sebentar, temani saya membereskan sisa-sia tissue setelah membaca buku ini….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s