Si Parasit Lajang

img0007_33

Judul                           : Si Parasit Lajang

Penulis                         : Ayu Utami

Penerbit                       : GagasMedia

Terbit                           : Maret 2005

Tebal                           : 281 hlm

Awalnya melihat sampul dan judul dari buku ini sendiri sudah mengerikan buat saya, tapi saya selalu beranggapan, jangan melihat buku dari sampulnya, maka saya beranikan diri untuk membaca isinya. Mata saya membelalak ketika membaca judul-judul cerpen yang terdapat di dalam, tidak kalah mengerikan dibanding sampul dan judulnya. Tetapi, pikiran saya masih diliputi oleh pikiran positif, maka saya meilah-milah saja cerpen mana yang akan saya baca, dan ternyata ceritanya bagus dan menginspirasi meski memang agak frontal.

Kucing atau Anjing

Jenis manusia manakah Anda? pecinta kucing atau pecinta anjing? (Jika Anda tidak mencintai salah satunya pun, rasanya Anda kurang manusia)

Anjing adalah binatangnya lelaki, kucing dan domestik dan hampir tak berguna, milik perempuan. Anjing penjaga, kucing bersolek. Anjing berani, kucing manja. Anjing maskulin, kucing feminin. Bahkan di kisah Cinderella yang upik abu merawat anjing dan kakak tirinya yang judes memelihara kucing.

Hewan tak ada bekasnya dalam budaya massa kita. Binatang tak dianggap memperkuat karakternya sendiri. Mungkin kita adalah bangsa yang asyik dengan diri sendiri, sehingga fabel digunakan sebatas mewakili diri kita. (hlm 22)  Waww!

– Kenapa orang menganggap yang satu indah dan yang lain buruk? Kenapa yang tinggi-langsing dianggap bagus dan gemuk-pendek kurang? Bisakah kita tidak memberi nilai pada apapun?

Itulah yang menyedihkan kawan, manusia hidup dalam nilai-nilai dan mereka sering tidak bisa membedakannya dari kodrat.

Atau barangkali memang tidak bisa dibedakan? Sebab kodrat kita yang pertama adalah menilai. (hlm 76-77)

Poligami

Saya teringat seorang teman. Dia pria, sudah menikah, dan punya pacar lagi. Sipacar mau bersetubuh dengan dia tetapi dia hanya mau jika mereka menikah. Saya bilang, “Kenapa tidak berzinah saja?” Ia jawab, “Nanti Tuhan menangis.” Saya katakan lagi, “Kenapa kamu memilih menyakiti istrimu, pihak yang lemah, ketimbang menyakiti Tuhan, yang sudah begitu kuat?” (hlm 167)

10 Alasan untuk tidak kawin

  1. Memangnya harus menikah?
  2. Tidak merasa perlu
  3. Tidak peduli
  4. Sejak kecil, saya melihat masyarakat mengagungkan pernikahan. Ironisnya, dongeng Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin atau ciuman dibalkon. Artinya tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri. Sesungguhnya pada titik dongeng berhenti, seorang anak diperkenalkan pada yang realistis.
  5. Trauma, saya melihat sindrom perawan tua di diri saya.
  6. Tidak berbakat
  7. Saya tidak ingin menambag pertumbuhan penduduk dengan membelah diri
  8. Seks tidak identik dengan perkawinan. Siapa bilang orang menikah tidak berhubungan sekas dengan bukan pasangannya?
  9. Sudah terlanjur asyik melajang
  10. Tidak mudah percaya (hlm 176)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s