The Frog Princess

baker

The Frog Princess

Penulis : E.D Baker

Penerjemah : Khairi Rumantati

Penyunting : Jia Effendi

Penyerasi : Ida Wajdi

Penerbit Atria

Cetakan I : April 2010

Kali ini saya benar-benar ingin menjadi anak-anak lagi, bosan bergelut dengan novel-novel anak muda sekarang yang bertemakan galau, makanya bulan ini saya lebih cendenrung membaca karya fiksi anak-anak, dan saya akui saya kembali ke masa anak-anak yang bebas berimajinasi.

The Frog Princess ini tidak seperti cerita tentang pangeran katak yang langsung terbebas dari rapalan mantra sang penyihir yang mengutuknya ketika ada seorang purti yang menciumnya, melainkan seorang putri yang mencium pangeran yang dikutuk menjadi katak malah ikut menjadi katak, dan disitulah letak kelucuan dan perjuangan dari cerita ini.

Dengan berpengang teguh terhadap kalimat,

Mantra tidak akan bekerja tanpa penawarnya atau penyihir itu tidak memberitahukan apa penawarnya

Maka pangeran katak dan puteri yang baru saja berubah menjadi katak itu nekat menembus bahaya apapun untuk mematahkan mantra penyihir itu.

Saya tergelitik ketika membaca bagian di mana ketika Sang Puteri baru saja berubah menjadi katak, kulitnya tiba-tiba menjadi mengeras dan berlendir, tapi tidak mengubah pikirannya sama sekali kalau dia tetap merasa dirinya puteri dan bukannya seekor katak, dia tidak mau memakan serangga yang menjadi makanannya kini. Saya tiba-tiba ikut berpikir bagaimana ketika saya tiba-tiba menjadi katak dengan kondisi saya yang tidak pandai berenang, apa saya akan kelihatan seperti katak dungu? Haha

Satu pesan yang membuat saya mengerti dan agak terharu, walau dituliskan dengan bahasa yang sangat sederhana.

Tidak ada yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu.

Saya juga mengangguk-angguk setuju ketika membaca kalimat ini,

Aku paham bahwa manusia yang nyawasa sudah diselamatkan mungkin akan memiliki suatu perasaan tertentu yaitu rasa syang terhadap penyelamatnya.

Disinilah letak asyiknya membaca buku anak-anak walau kurasa buku ini cocok untuk semua usia, karena didalamnya banyak kalimat sederhana yang memiliki arti yang mendalam.

Dan yang menurut saya paling lucu dalam buku ini adalah ketika kedua sang katak ini sudah hampir menemukan jalan untuk berubah menjadi manusia lagi, si Pangeran Katak malah berkata kepada Sang Puteri katak seperti ini,

โ€œHarusnya aku tidak mengatakan apa-apa, hanya saja menjadi seekor katak bersamamu menyenangkan. Hal-hal terburuk sebagai katak pun jadi lebih baik saat aku melaluinya bersamamu dibandingkan saat aku masih sendiri.โ€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s