The Witches (Ratu Penyihir)

re_buku_picture_79047

 

 

Judul                : The Witches (Ratu Penyihir)

Penulis             : Roald Dahl

Ilustrasi            : Quentin Blake

Terbit               : Januari 2002

Tebal               : 240 hlm

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

 

Halaman pertama buku ini saja sudah sangat meyakinkan.

Dalam dongeng, para penyihir selalu memakai topi hitam yang kelihatan konyol dan jubah hitam, dan mereka naik sapu. Tapi ini bukan dongeng. Buku ini tentang PARA PENYIHIR SUNGGUHAN. (hlm 9)

Ketika yang membaca buku ini adalah anak umur 8 tahun, ia mungkin saja akan meloncat kaget, hehe. Tapi percayalah, setelah kau membaca buku ini, kau juga akan tiba-tiba merasa was-was dan menghapal ciri-ciri penyihir yang diutarakan dalam buku ini. Haha.

Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang sama sekali bebas dari penyihir. Penyihir selalu berjenis kelamin perempuan. (hlm 11)

Coba perhatikan gambar diatas. Yang mana yang penyihir? Itu pertanyaan yang sulit, namun setipa anak harus mencoba menjawabnya.

Tahu kau, seorang penyihir mungkin saja saat ini tinggal persis si sebelah rumahmu? Atau dia bisa saja wanita bermata cemerlangyang duduk diseberanggmu di bus tadi pagi? Dia mungkin saja wanita yang tersenyum manis ketika menawarimu permen. Janganlah kau lengah karenanya. Itu bisa saja bagian dari kecerdikannya. (hlm 13)

Kau harus menghapal ini baik-baik untuk berjaga-jaga.

Cara mengenali penyihir :

–          Penyihir sungguhan akan selalu memakai sarung tangan.

–          Penyihir sungguhan selalu botak, ia selalu memakai wig untuk menutupi kebotakannya.

–          Perhatikan lubang hidungnya. Lubang hidung penyihir sedikit lebih besar daripada manusia biasa, berwarna merah muda dan bergelombang.

–          Penyihir tidak akan mencium baumu kalau kau kotor.

–          Penyihir tidak mempunyai jari kaki

–          Ludah mereka biru. (hlm 28-38)

Semoga saya dan kalian tidak pernah bertemu dengan penyihir!!!

Inti cerita ini sendiri dimulai ketika seorang anak yang kemudian di sihir oleh Ratu penyihir ketika ketahuan menyelinap di dalam rapat tahunan antar penyihir di sebuah hotel. Anak yang menjadi tikus ini dirawat oleh nenek yang sangat dicintai dan mencintainya. Mereka berdua bertekad untuk menhabiskan sisa hidup mereka untuk membasmi penyihir-penyihir di seluruh dunia dan menyelamatkan nasib-nasib anak-anak yang lain agar tidak menjadi korban kejahatan sihir.

Dan, kalimat yang paling mengharukan dalam buku ini adalah,

“Sayangku,” kata nenekku akhirnya, “kau yakin kau tidak keberatan jadi tikus seumur hidupmu?”

“Aku sama sekali tidak keberatan,” jawabku. “Bukan masalah siapa dirimu atau seperti apa penampilanmu, selama ada yang menyayangimu.” (hlm 216)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s