Gadis Pantai

Image

Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer

Copyright © Pramoedya ananta Toer 2003

All Right Reserved

Penerbit Lentera Dirpantara

Cetakan 7, September 2011

272 hlm; 13×20 cm

Gadis pantai lahir dan tumbuh disebah kampung nelayan di Jawa tengah, Kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada (admininstrasi) Belanda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.

Mulanya perkawinan itu memberi pretise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dianaikkan derajatnya menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tidak berlangsun lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang jawa telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.

Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tidak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung dijantungnya yang paling dalam.

Membaca karya-karya Pram, membuat saya belajar tentang kehidupan sejarah sambil menikmati sastra, tanpa harus duduk diam di kelas dengan mengantuk. Saya dulu, paling tidak suka belajar sejarah. Selain belajar, membaca novel ini membuat emosi saya terkuras. Terharu, kesal, kasihan bercampuk aduk, sampai-sampai saya ingin terus mengetahui apa yang terjadi terhadap kehidupan si Gadis Pantai ini selanjutnya.

Gadis yang masih berusia empatbelas tahun dinikahkan kepada seorang priyai, petinggi di kota. Empatbelas tahun, saya masih dengan bebasnya tertawa-tawa bersama teman-teman saya dengan memakai rok pendek berwarna biru saat berumur seperti itu. Membayangkan apa itu pernikahan tidak pernah.

Gadis yang dinikahkan, tapi malah tidak dianggap sebagai istri oleh sang priyai yang dipanggil dengan sebutan Bendoro, ia hanya selir, hanya budak sampai sang Bendoro menikah dengan orang sederajat dengannya, orang kota. Istri percobaan katanya.

Betapa geramnya saya membaca novel ini, gadis empat belas tahun dinikahi namun hanya dijadikan selir. Ahh, betapa masa dulu memang kejam!

Banyak konflik yang terjadi di dalamnya, ada juga pihak antagonis yang ingin menghancurkan Gadis Pantai dilingkungan tempat tinggal Bendoro, bagaimana kesulitan yang dihadapai Gadis Pantai untuk beradaptasi dilingkungan yang serba diatur dan serba hati-hati.

Yang membuat saya paling geram ketika seorang bernama Mardinah datang kekediaman bendoro dan mengaku ingin membatu Gadis Pantai namun dia hanya menjelek-jelekkan kampungnya, kampung nelayan. Orang-orang kota selalu merasa paling hebat. Apalagi ketika Gadis Pantai melahirkan, dia melahirkan seorang bayi perempuan. Kalian pasti tahulah dilingkungan kerajaan seperti itu yang paling dinantikan kelahirannya adalah bayi laki-laki sebagai penerus takhta. Setelah Gadis pantai melahirkan bayi perempuannya, yang dikatakan Bendoro, “hanya bayi perempuan anakmu?” . Tidak sampai disitu emosi saya bercampir aduk, setelah itu Gadis pantai diceraikan dan diusir dari rumah bendoro, tanpa anaknya.

Coba bayangkanlah, bayi yang baru lahir, kemudian dipisahkan dengan ibunya.

Saya tidak pernah membayangkan kehidupan saya jika saja saya hidup di zaman Gadis Pantai. Dan oh, saya tidak habis pikir, perempuan kota, perempuan bangsawan pun akan rela nantinya menikah dengan Bendoro yang sudah memeliki banyak selir dan anak?

Di zaman tersebut, barulah saya ketahui kalau ternyata kekuasaan Bendoro itu dikalahkan oleh kekuasaan Mas Ayu, perempuan. Perempuan-perempuan bangsawan.

Buku ini sangat layak untuk kalian baca. Menguras emosi, menambah pengetahuan kalian tentang sejarah bahkan kegetiran hidup seorang perempuan.

Saya suka sampul buku Gadis Pantai yang ini, lebih sarat dengan kepedihan.Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s