Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

Image

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Seno Gumira Ajidarma

Perancang sampul : Teguh Prasetyo

Ilustrasi isi dan sampul : Asnar Zacky

Cetakan III, April 2006

Peberbit Galangpress Yogyakarta

125x185mm; 220 hlm

 

Bagaimana jika Anda dilarang menyanyi di kamar mandi dengan alasan suara Anda menimbulkan imajinasi yang meresahkan masyarakat republik ini? Relakah Anda dilarang menyanyi di kamar mandi hanya karena imajinasi telah membuat banyak orang tidak tahu diri? Sudihkah nasib Anda ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal tentang suara nyanyian Anda setiap kali mandi? Mungkinkah Anda hidup dalam masyarakat yang mungkin saja suatu ketika melarang Anda menyanyi di kamar mandi?

 

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi adalah kumpulan  yang berisi tigabelas cerpen. Salah satunya adalah judul buku ini sendiri. Selain di larang menyanyi di kamar mandi, cerpen yang saya sukai di dalamnya adalah yang berjudul Bibir yang Merah Basah, dan Setengah Terbuka, Bayang-banyang Elektra dan  Kriiiiiiing!

Kesan pertama waktu mengetahui adanya judul buku ini, dipikiran saya langsung terlindas bahwa isinya berupa mitos. Seperti ketika para nenek-nenek memarahi anak gadis menyanyi saat memasak, “Nanti masakannya hangus,” katanya. Lah, kalau menyanyi di kamar mandi, seperti apa akibat dari kemitosannya?

Setelah membacanya, saya malah semakin kagum dengan imajinasi dan cara berpikir dari Seno yang sangat sederhana namun mampu menjadikannya sebuah cerita yang berkonflik. Ternyata saya salah besar. Isi dari cerpen tersebut tidak ada sama sekali unsur mitosnya, malah penuh dengan imajinasi. Bahkan tokoh-tokohnya dipenuhi dengan imajinasi. Bayangkan, Seorang gadis yang kost di sebuah daerah tiba-tiba menjadi pergunjingan ibu-ibu dan akan diusir dari daerah tersebut karena mengganggu keharmonisan keluarga mereka hanya karena si gadis menyanyi di dalam kamar mandi!

Lantas kenapa hanya menyanyi di kamar mandi dapat mengganggu keharmonisan keluarga dan sampai mau diusir? Ternyata para suami-suami di daerah tersebut sudah tahu betul jam mandi sang gadis, dan mereka berbondong-bondong untuk menempelkan telinga mereka di dinding kamar mandi mendengar si gadis bersenandung. Kata mereka suaranya serak-serak basah.

Di dalam cerpen ini seperti inilah imajinasi para suami-suami yang mendengar sang gadis bersenandung dengan suara serak-serak basahnya di dalam kamar mandi.

Suami-suami bersandar di tembok dan berlonsentrasi. Mereka memejamkan mata. Mereka mendengr Sophie bersenandung dan mendengar Sophie membuka kaos oblongnya. Terbayang oleh mereka tubuh Sophie tanpa kaos oblong, membuka ritsluiting celana pendek. Trrrrkk. Terbayang Shopie menggantungkan celana pendek lantas menurunkan celana pendek. Mengambil air dengan gayung dan menyiramkan ke tubuh. Shopie menggosok tubuh debgan sabun. Suami 1 membayangkan dirinya berpelukan dengan Shopie. Suami 2 membopong Shopie ke ranjang. Suami 3 menindihi Shopie di ranjang. Suami 4 ditindihi Shopie di ranjang. Suami 6 duduk berhadapan dengan Shopie di ranjang, mereka berciuman. Suami 7 mendorong Shopie dari posisi duduknya sampai rebah, lantas menindihnya. (halaman 27-29)

Pada akhirnya ibu-ibu kompleks mendemo dan Shopie pun diusir. Sampai-sampai sekarang di daerah tersebut sudah ada SK RT yang melarang menyanyi di dalam kamar mandi.

 

Cerita pendek yang berjudul Kriiiiinnnggg! Juga sangat sederhana tapi mengandung sindiran. Cerita mengenai sebuah telepon yang terus berdering, tanpa ada orang-orang di sekelilingnya yang mau mengangkatnya karena alasan sibuk.

Kriiingggg!

“Gila diangkat dong! Kelihatannya gawat tuh!”

“Angkat sendiri! Aku juga baru gawat!”

“Aku heran, kenapa sih, kalian yang dekat-dekat situ tidak ada yang mau mengangkat? Itukan Cuma sebentar.”

“Cuma sebentar? Kamu yakin Cuma sebentar?”

“Jangan begitu, paling-paling cuma sebentar.”

“Kenapa tidak kamu saja sih, daripada nyuruh-nyuruh orang?”

“Kamu kan lebih dekat.”

(halaman 147)

Sampai seterusnya, orang-orang sibuk dengan kepentingan sendiri tanpa mengacuhkan bunyi telepon yang terus berdering tersebut.

Dialog yang terlalu panjang itu biasanya sangat membosankan. Tapi disini menurut saya percakapan itulah yang menjadi titik penjelasan bahwa tidak adanya orang yang mau saling mengerti dan betapa egoisnya orang-orang.

Setelah duaratus tahun lamanya telepon itu akhirnya terangkat juga.

“Halo! Bagaimana sih ini? Kenapa baru diangkat sekarang? Katanya mau membela rakyat kecil. Kami buta hukum, tidak tahu prosedur, makanya kami menelpon. Nomornya sudah betul loh, kami Cuma rakyat kecil, kami ingin bertanya, kami merasa diperlakukan tidak adil. Kenapa baru sekarang teleponnya diangkat ketika saya sudah hampir mati?”

Klak!

Telepon ditutup kembali oleh yang mengangkatnya tadi.

Setelah mereka pergi, telepon itu berbunyi lagi.

Kriiiinnnng!

Apakah Tuhan mendengarnya?

 

Cerpen yang berjudul Bayang-bayang Elektra juga imajinatif. Elektra kehilangan bayang-bayangnya dan dia panik sekali. Membayangkannya saja bisa gila, apa iyah bayangan bisa hilang? Tapi lagi-lagi cerpen ini memberikan pelajaran dan kesadaran lewat sindiran.

Paginya, ketika matahari terbit, seluruh penduduk kota ditinggal pergi bayang-bayangnya.

“Bayang-bayangkuuuuu!!!! Jangan pergi!!! Kami masih punya hati nurani.”

“Bayang-bayangkuuuuu!!!! Kembali!!!! Kami meninggalkan hati nurani cuma sekali-kali!!!”

(halaman 119)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s