Warna Tanah ( The Story Of Life in The Golden Fileds Vol 1 )

Image

Image

The Story Of Life in The Golden Fileds Vol 1

© 2003 by Kim Dong Hwa

All Right Reserved

First Puhlished in Korea in 2003

By Kim Dong Hwa

Indonesian Translation right arranged with Kim Dong Hwa through Orange Agency Indonesian edition © 2010 by PT  Gramedia Pustaka Utama

Kisah Kehidupan Di Padang-padang Keemasan Vol 1

Alih bahasa: Rosi L. Simamora

Editor: Tanti Lesmana

Teks dan Tata Letak: Anna Evita Rosaria

Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Juni, 2010

320 hlm; 24cm

 

Trilogi indah tentang cinta pertama dan kesempatan-kesempatan kedua.

Melukis kehidupan para wanita dengan hujan dan bunga.

Warna Tanah menceritakan tentang kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan: Ehwa gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Ehwa baru saja memulai perjalanannya menjadi seorang wanita. Bersama setiap musim hujan, Ehwa kecil semakin matang dalam pikiran maupun tubuh. Ehwa dan ibunya sama-sama bertumbuh dan berubah, namun ikatan yang sangat dalam diantara ibu dan anak ini membuat mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia dan lingkungan sekitar yang tidak selalu ramah.

 

Kim Dong Hwa sangat romantis, bisa dibilang novel grafis ini adalah salah satu karya sastra. Pertama, saya bertanya-tanya novel grafis itu apa bedanya dengan komik, ternyata di bgian terakhir novel ini ada penjelasannya. Novel grafis adalah kisah panjang yang diceritakan dalam bentuk komik.

Saya sangat menyukai disetiap kata demi kata yang tertulis, mengandung makna yang dalam, memberikan pengetahuan yang lebih. Selain kata-katanya yang indah, saya sangat menyukai gambarnya, suasanya yang tergambar menambah keromantisan ceritanya.

Image

Menurut saya, novel grafis ini sangat cocok dijadikan sebagai hadiah untuk seorang anak perempuan yang akan tumbuh menjadi ABG ataupun dewasa. Banyak pengajaran-pengajaran secara halus atas pertanyaan-pertanyaan anak perempuan kecil yang sudah ingin tahu semuanya. Kedekatan antara anak perempuan dan ibunya. Manis sekali.

Kelak nanti, novel ini akan saya hadiahi untuk anak perempuan saya. Haha!

Halaman pertama novel ini sudah membuat saya jatuh cinta dan tersenyum malu-malau. Bayangkan, Ehwa kecil saat mandi bersama ibunya mengajukan pertanyaan anak perempuan lugu. Saya kira, ada diantara kita yang pernah pula menanyakannya.

“Dimanakah ibu menaruh burung ibu?”

“Semua orang punya burung, mengapa ibu tidak punya?”

“Kau sendiri tidak punya.”

“Kalau begitu kurasa aku dan ibu cacat, ya kan?”

“Mengapa Ibu tertawa? Kurasa ibu tidak khawatir seperti aku.”

“Mengapa aku harus khawatir kalau perempuan memiliki sesuatu yang berharga daripada burung anak laki-laki? Pintu tempat datangnya bayi. Kau belum dapat melihatnya sekarang karena kau masih kecil. Pintu itu sangat istimewa, jadi kau tidak boleh menunjukkannya kepada siapaun sampai kau menikah nanti.”

 

Muda maupun tua, perempuan adalah makhluk aneh. Bersama datangnya setiap musim semi. Pikiran merekapun semakin matang. Tahun depan pada waktu seperti ini, setelah basah kuyup diguyur hujan, apa lagi yang bakal ditanyakan padaku? (hlm 37)

 

Hujan kedua, Ehwa datang lagi dengan pertanyaan lugu ala anak perempuan kecil. Ketika ia dan teman-temannya selesai bermain pengantin-pengantin dan merasa jijik ketika teman perempuannya mencoba berpura-pura menjadi laki-laki sebagaimana mestinya sehabis pernikahan.

“Pada perempuan terdapata tempat bayi datang, tapi juga laki-laki yang menjadi mempelai pria mempunyai burung, tempat benih bayi berada. Dan supaya mempelai laki-laki dapat memberikan benih bayi itu kepada mempelai wanita, ia harus memeluk di wanita.”

“Bukan seperti pohon gingko dimana laki-laki dan perempuan hanya perlu saling memandang untuk mendapatkan bayi?”

 

Saya rasa, banyak juga diantara kita yang selalu membayangkan dan bertanya-tanya serta percaya kalau hanya saling memandang, kita dapat menghasilkan bayi.

 

Ada satu bagian yang lucu ketika seorang anak lelaki yang menyukai Ehwa tiba-tiba mimpi dan celananya basah, belakangan ia ketahui kalau ia telah mimpi basah. Dilain sisi, Ehwa yang panik dan mengira dirinya akan mati ketika ia melihat ada cairan berwarna merah keluar dari alat kelaminya dan merasakan sakit diperutnya. Saat membacanya, muka saya memerah. Senyum-senyum geli. Waktu pertama mengalaminya juga saya sangat panik. Saya suka cara ibu Ehwa mengajarinya dengan lembut.

 

Ehwa yang perlahan menjadi dewasa, memiliki rasa terhadap dua lelaki. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ahh, hal-hal lumrahpun di ceritakan di novel ini. Khas kehidupan anak yang baru saja menjadi remaja.

 

Apakah manusia juga harus dipangkas? Jadi kalau laki-laki ini dan laki-laki itu tumbuh di dalam hati kita, kita harus memangkas salah satu dari mereka? – Ehwa

 

Dalam kehidupan anak remaja baru juga pasti ada salah satu teman kita yang sedikit menyimpang atau lain daripada kita. Begitulah juga kisah Ehwa, temannya yang bernama Bongsoon adalah perempuan yang bisa dibilang liar dan berani. Suatu hari Ehwa melihatnya berduaan dengan seorang laki-laki ditempat tersembunyi dan Bongsoon membiarkan lelaki itu mengintip apa yang terdapat dibalik roknya.

 

Karena takut orang lain melihat kedalam hatiku, aku berhati-hati untuk tidak menunjukkan perasaanku. Tapi Bongsoon bahkan membiarkan orang lain melihat kebalik roknya. Apakah itu artinya Bongsoon sudah dewasa? Apakah ia melakukan semua keheboan itu karena ingin menjadi dewasa? – Ehwa

 Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s