Iblis Tidak Pernah Mati

Image

Iblis Tidak Pernah Mati

Seno Gumira Ajidarma

Ilustrasi Sampul : Asnar Zacky

Desain Sampul : Sigit Santoso

Desain Layout : Ari Rushartanto

Cetakan ke III, September 2004

Penerbit Galang Press

264 hlm; 18 cm

Berulang kali saya akan mengatakan kembali, kalau saya terkagum-kagum atas imajinasi dari –entah apa yang harus saya gunakan, Pak, Om, Eyang, haha- Seno. Imajinasinya begitu kaya atas hal-hal simple disekitar kita. Kumpulan cerpen di dalam buku Iblis Tidak Pernah Mati ini juga begitu banyak imajinasi ringan tetapi liar.

Judul buku ini sendiri tidak ada cerpen mengenai itu di dalamnya, melainkan kesimpulan yang bisa ditarik oleh pembaca atas semua cerpen-cerpen. Kalau ternyata, iblis itu tidak memang tidak pernah mati.

Ada enam belas cerpen dan hampir semua isi dan idenya saya sukai. Tapi, kalau saya menuliskan semua disini, tentu penasaran kalian akan cepat terungkap, ada baiknya kalau kalian ikut membeli dan menikmati bukunya, hehe.

Cerita pendek yang saya sukai pertama adalah yang berjudul Patung. Awalnya, saya mengira isinya akan sama sekali tidak menarik, dan oh Om Seno menyulap cerita sebuah patung menjadi romantis. Cerita ini mengambil sudut pandang sebuah patung. Manusia yang menjadi patung, ia menjadi patung karena terlalu lama menunggu pacarnya. Setahu otak anak kecil saya, anak durhakalah yang menjadi patung, disini, kekasih yang setia malah menjadi patung.

Cerpen kedua berjudul Tujuan: Negeri Senja. Yang mengenal baik Om Seno tentulah tahu ciri khas cerita-cerita beliau, yap, melulu tentang senja. Tapi, siapa juga sih yang tidak menyukai hari dimana jingga mendominasi itu? Cerpen ini mengandung makna yang dalam menurutku. Tentang kematian. Tentang kita yang pergi dan tidak bisa kembali. Seperti itulah Negeri Senja, kita hanya boleh pergi dan bersedia untuk tidak kembali lagi. Tidak perlu membayar, kata tukang karcis yang menjaga, hanya perlu tandatangan dan setuju untuk tidak kembali. Jadi, tidak ada yang tahu seperti apa Negeri Senja itu, karena tak ada orang-orang yang kembali membawa kabar. Apa kau ingin kesana?

Cerpen ketiga berjudul Dongeng Sebelum Tidur. Siapa yang tidak senang didongengi? Dongeng selalu berhasil membuat anak-anak tertidur dengan mimpi indah, sekaligus bangun dengan harapan-harapan tinggi. Tapi disini Om Seno menceritakannya lain. Seorang gadis kecil yang didongengi ibunya tidak bisa tidur sama sekali. Ibunya sudah kehabisan dongeng-dongeng indah, tentang putri dan pangeran, sedangkan anak gadisnya tidak ingin diceritakan mengenai dongeng yang berulang. Sampai ketika ibunya kehabisan akal dan mencari judul lewat koran. Koran itu menceritakan tentang dunia nyata tapi diceritakan ibunya seperti dongeng. Anak gadisnya merasa aneh dan tidak bisa tidur. Dunia nyata sungguh tidak pantas dibuat dongeng, mereka berkebalikan. Mungkin seperti itulah pesannya.

Cerpen keempat berjudul Kematian Paman Gober. Iyah, Paman Gober tokoh Donald Bebek, yang terkenal kaya raya tetapi pelit. Semua warga bebek hanya ingin mendengar dan membaca di setiap ada berita atau koran, berita mengenai meninggalnya paman gober. Tiada lagi berita yang warga bebek tunggu selain itu, berita semua menjadi tidak menarik selain berita yang merek tunggu itu.

 

Itu saja kali yah ulasan dari beberapa cerpen dalam buku ini, dari yang saya paparkan, semua idenya cemerlang. Ada bayak pesan-pesan yang tersirat disetiap tulisan Om Seno, itu kenapa saya menyukai tulisan-tulisannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s