Kumpulan Dongeng Perrault

Image

Contes De Perrault

Copyright © 1979, 1971 by Editions des Deux Coq d’Or, Paris

All rights reserved

 

Kumpulan Dongeng Perrault

Alih Bahasa: Listiana & A. Tati Bambang Haryo

Sampul: Caecillia Hidayat & Ryno Bengawan

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

216 hlm; 27,5 cm

 

Kumpulan dongeng Perrault ini berisi sepuluh dongeng-dongeng sepanjang masa. Dongeng-dongeng yang selalu menjadi pengantar tidur. Dulu pernah punya bukunya satu-satu tapi sudah hilang. Makanya, sekali lagi mau mengumpulkan buku dongeng sewaktu kecil. Sepuluh dongeng itu adalah Si Kulit Keledai, Si Kuncung Riquet, Si Janggut Biru, Peri, Si Tudung Merah, Putri yang Tidur Seratus Tahun, Cinderella, Tiga permintaan, Si Kecil Bujari, Kucing Bersepatu Lars.

Seperti dongeng-dongeng pada umumnya, cerita-cerita di dalam buku ini mengandung pembelajaran-pembelajaran yang harus selalu diingat, dan dilakasanakan. Saya hanya akan membahas beberapanya saja, karena beberapa dongeng sudah begitu familiar. Selain itu, ilustrasi-ilustrasinya cantik 🙂

Image

Ketika saya membaca Si Tudung Merah, saya mendapati ceritanya tidak sampai selesai seperti cerita di dalam buku kepunyaan saya waktu kecil. Di dalam buku ini, cuma sampai ketika di pemburu membedah perut serigala dan mengeluarkan nenek dari dalam perutnya. Di dalam buku saya sewaktu kecil, si pemburu malah mengisi perut serigala setelah mengeluarkan nenek dengan batu, kemudian menjahitnya lagi. Sehingga ketika si serigala sadar, dia tidak bisa bangun karena perutnya yang sangat berat oleh batu.

Pesan moral yang paling tersampaikan adalah di dongeng yang berjudul tiga permintaan.

Konon, hiduplah seorang tukang kayu bersama istrinya. Hidup mereka miskin. Suatu ketika sang tukang kayu berkata ingin rasanya mendapatkan jin yang akan mengabulkan semua permintaan mereka. Tak disangka, harapan itu terwujud, mereka diberi kesempatan untuk memikirkan tiga permintaan. Sesampai di rumah, sang suami tidak tahu harus meminta apa, saking banyaknya yang mereka inginkan. Tanpa sadar, dia berkata ingin makan sosis. Kemudian muncullah sosis yang sangat banyak. Sang istri begitu marah, karena suaminya begitu bodoh menyia-nyiakan sebuah permintaan dengan hal yang konyol. Sang istri terus mengomel sehingga sang suami murka dan mengatakan dia ingin sosis itu keluar dari hidung sang istri, dan sosis itupun berada di hidung sang istri. Si Tukang kayu heran dan merasa bersalah, kini dua sudah permintaan yang disia-siakannya. Karena si tukang kayu sangat mencintai istrinya, maka dia tidak tega melihat istrinya akan menderita seperti itu, dengan hidung penuh sosis. Maka dia meminta agar sosis itu keluar dari hidung sang istri.

Image

“Astaga, kita masih tetap miskin seperti dulu, tetapi tidak menderit. Kekayaan mungkin tak akan memberikan kebahagiaan kepada kita. Rupa-rupanya jin yang baik hati itu ingin member pelajaran kepada kita. Sudahlah! Jangan kau pikirkan lagi! Sekarang mari kita makan sisa sosis yng telah jatuh dari langit itu!” (hlm 166)

Dari cerita diatas, mengajarkan kepada kita bahwa jangan sekali-kali ceroboh, berhati—hati degan ucapan, karena bisa saja hal-hal terjadi karena ucapan kita sendiri, dan selalu bersyukur atas apa yang telah dimiliki.

 

Dongeng lainnya berujudul Si Kuncung Riquet. Dia dinamakan demikian karena memiliki wajah yang jelek. Sejak lahir dia sudah diramalkan akan berwajah jelek, namun memiliki kepandaian dan nantinya dia bisa menularkan kepandaiannya kepada orang yang menyukainya. Di negeri lain, seorang puteri juga melahirkan bayi kembar perempuan, yang satunya amat cantik namun diramalkan akan memiliki otak yang sangat bodoh, tetapi dia dapat menularkan kecantikannya kepada orang yang mencintainya. Kembarannya sangat jelek, tetapi pintar sehingga ketika mereka beranjak dewasa yang paling disukai banyak orang adalah si jelek. Hingga suatu hari si Kuncung riquet bertemu dengan si cantik yang sedang menangisi kebodohannya,sehingga dia mengatakan akan menularkan kepintarannya asal sang putrid cantik bersedia menikahinya. Setelah mereka menikah, si Kuncung riquet perlahan-lahan menjadi sangat tampan.

Nah, dari cerita ini, kita tidak boleh menganggap remeh seseorang. Setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dilain sisi, ketika kita berbaur dengan orang-orang yang pintar, secara tidak langsung kita bisa tertular akibat kepintarannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s