Tenggelamnya Kapal Vander Wijck

 

Tenggelamnya Kapal Vander Wijck

Oleh Hamka

Cetakan keenam belas

PT. Bulan Bintang, Jakarta 1976

Ini adalah buku yang sudah lama saya –bahkan mungkin kebanyakan orang- cari-cari. Sampai saya menemukannya di toko buku yang sudah lama berdiri. Belakangan saya ketahui kalau bukunya palsu, karena isinya kabur dan ada kata-kata yang hilang. Namun demikian, prinsip saya daripada tidak punya bukunya sama sekali, lebih baik punya yang bajakan, hehe. Tulisan pada judulnya saja ternyata agak berantakan, dan itu baru saya perhatikan dengan seksama.

Alkisah seorang pemuda yang bernama Zainuddin yang lahir di Makassar –di buku ini masih tertulis Mengkasar- akan melangsungkan niatnya untuk pergi ke tanah asalnya. Tanah asal, karena ayahnya bersal dari sana, Minangkabau. Ibunyalah yang berasal dari Makassar. Zainuddin tumbuh dengan berbekal cerita dari Mak Base, orang kepercayaan kedua orang tuanya dulu.

Ayahnya, Pandekar Sutan dulunya diasingkan ke Cilacap karena mendapat kasus. Dia membunuh mamaknya. Selepas diasgingkan dia kemudian dibawa ke Makassar kemudian menikahlah dengan Deng Habibah, Ibunya. Tetapi, ibu dan bapaknya meninggal bahkan sebelum Zainuddin mengenal jelas siapa mereka.

Hidup Zainuddin semakin melarat saja ketika hendak merantau. Adat minangkabau tidak menerimanya. Ketika dia sedang jatuh cinta kepada Hayati, gadis cantik di Batipuh, dia bahkan diusir dari Batipuh. Lagi-lagi persoalan adat. Dan pederitaan Zainuddin tidak berakhir sampai disitu. Agaknya dia memang terlahir dengan nasib yang malang.

Secara keseluruhan, saya sangat suka dengan isi buku ini. Bagaimana perjuangan dan kesetiaan cinta diuji. Bahwasanya kalau memang jodoh tak lari kemana, sejauh kau menolak, selama kau menghindar. Gaya bahasanya yang mendayu-dayu khas zaman dulu membuat isinya semakin mellow saja. Saya beranggapan, bahwa orang-orang dahulu itu sangatlah sopan dalam bertutur.

Kasih sayang dan cinta terurau begitu halus. Surat-surat panjang dikirim untuk mewakili perasaan. Betapa sekarang sudah jarang.

Penjabaran rasa jatuh cinta dalam buku ini:

Mulut yang demikian ganjil lakunya, tetapi kaya dengan perasaan apabila duduk seorang diri. (hlm. 36)

Bahwasaya orang memburu cinta, adalah laksana memburu Kijang di rimba belantara. Bertambah diburu, bertambah jauh dia lari. Akhirnya tersesat dalam rimba, tak bisa pulang lagi. (hlm. 53)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s