The Kite Runner

Image

The Kite Runner

Karya Khaled Hosseini

Penerjemah: Berliani M. Nugrahani

Penyunting: Pangestuningsih

Proofreader: Herlina Sitorus

Copyright © 2003 by Khaled Hosseini

All rights reserved

Cetakan II, April 2006

Diterbitkan oleh Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka

618 hlm; 17,5 cm

 

Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.

Buku ini menceritakan tentang kisah antara anak dan ayah, seperti pula yang diungkapkan dari testimoni-testimoni orang-orang, pengakuan dosa dan penebusan. Akhirnya saya menemukan buku yang kembali membuat saya menangis. Ceritanya sungguh mengharukan. Cerita tentang keluarga memang selalu seperti itu.

Novel yang berlatar belakang Afghanistan ini menceritakan tentang Amir dan Hassan, anak yang selalu mengikuti kompetisi layang-layang. Hassan adalah anak laki-laki yang begitu jago mengejar layang-layang yang putus. Amir menaruh curiga terhadap Ayahnya yang lebih memperhatikan Hassan yang memang jago segala-galanya dibanding dia, sedangkan Hassan hanyalah pesuruh mereka. Ayah Amir adalah tipe orang tua yang otoriter.

Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau tak bisa begitu saja mengisi mereka dengan warna-warna kesukaanmu (hlm 36)

Sampai akhirnya suatu hari Amir yang muak dengan kondisi ini menjebak Hassan dan bapaknya yang kemudian meninggalkan rumah mereka. Perang yang terjadi di Afghanistan menrubah segalanya. Amirpun meninggalkan Afghanistan. Tetapi suatu hal, Amir dituntut untuk kembali ke Afghanistan dan menebus kesalahan-kesalahannya, dan semua pun terungkap.

Tidak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri, Amir (hlm 30)

Disini juga dijelaskan bahwa ada dua macam muslim yaitu muslin sunni dan syiah dan dua penganut itu perbedaannya sangatlah kuat. Itu yang membuat Amir dan Hassan berbeda walau mereka sama-sama muslim.

Novel ini tidak melulu bercerita tentang peperangan dan perbedaan, ada juga sisi romantisnya dimana saat Amir memperjuangkan cintanya hingga menikah dengan Soraya. Saya sendiri tersenyum-senyum dibagian itu, hehe.

Saya hampir tidak menemukan kekurangan buku ini sampai mendapati halaman yang hilang hampir 25-an halaman dan menurut saya itu bagian yang sangat penting. Selebihnya, buku ini sangat saya rekomendasikan.

Kehilangan sesuatu yang kita miliki selalu lebih menyakitkan daripada tidak memiliki sama sekali (hlm 354)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s