Dua Belas Pasang Mata

Banner_BacaBareng2015-300x187

18778857

Nijushi No Hitomi

By Sakae Tsuboi

Copyright © 1952 Koichi Kato

All rights reserved

Dua Belas Pasang Mata

Oleh Sakae Tsuboi

Alih bahasa: Tanti Lesmana

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

248 hlm; 20 cm

Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar disebuah desa nelayan miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sderhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Cerita ini berlatar Jepang tahun 1928. Dimulai dengan munculnya guru muda baru di sekolah yang disebut sekolah cabang. Disebut sekolah cabang tentu karena adanya sekolah utama. Sekolah cabang ini hanya sampai kelas empat, jika anak-anak naik ke kelas lima mereka akan bersekolah di sekolah utama. Kemunculan guru muda baru ini mengubah kebiasaan semua warga desa. Guru baru muda itu datang dengan mengendarai sepeda dan memakai pakaian barat, bukannya kimono. Di zaman itu, perempuan bersepeda dan tidak memakai kimono dianggap sangat modern dan itu membuat warga desa yang katanya susah didekati itu selalu bergosip tentang guru muda baru itu. Tapi sifatnya yang periang dan tak gentar membuatnya disukai dan disegani oleh murid-murid kelas satu, berjumlah dua belas orang yang sangat usil. Sampai suatu hari terjadi insiden yang membuat Ibu Guru itu mengalami kecelakaan dan tidak dapat mengajar dalam waktu lama dan membuat murid-murid menjadi tidak semangat bahkan warga desa mulai merasa kehilangan. Mereka merasa bersalah telah bersikap cuek dan mulai mengirimi Ibu Guru berbagai macam hadiah dan mendoakannya lekas sembuh.

“Ya,mereka semua sangat baik.”

“Padahal kami sering mendengar konon orang-orang di sini susah didekati.”

“Memang benar. Tetapi justru orang-orang seperti itu adalah yang paling ramah , kalau mereka sudah betul-betul mengenal kita.” (hlm 100)

Tahun-tahun berlalu, semua murid tumbuh dewasa dan merencanakan masa depan mereka, meski ada beberapa yang tidak tahu harus berbuat apa karena kondisi keungan. Ditambah masa-masa itu adalah masa perang. Anak laki-laki semua berpikir untuk menjadi tentara dan ikut berperang. Ibu Guru sendiri sangat tidak menyukai perang.

Seandainya masa depan yang menunggu anak lucu ini hanyalah perang, lalu apa artinya memiliki, mencintai dan membesarkan anak-anak? Mengapa orang tidak diperbolehkan menghargai nyawa manusia dan mencegah supaya mereka tidak mati kena peluru serta hancur berkeping-keping? Apakah “menjaga ketentraman umum” berarti melarang kebebasan berpikir, bukannya menghargai serta melindungi nyawa manusia? (hlm 187)

Seperti yang tertulis di Kata Pembuka, buku ini merupakan buku anti perang. Walau isinya tidak terlalu fokus ke perang, tetapi memberikan makna yang dalam. Akibat perang, banyak yang telah terjadi pada kehidupan para siswa tersebut, ada yang meninggal karena sakit, karena perang, ada yang telah berhasil, ada yang akhirnya menjadi pelacur. Hidup sangat keras bagi mereka saat itu diusia mereka yang baru menginjak dua puluhan tahun. Sampai akhirnya mereka mengadakan acara reuni kecil-kecilan, tentu bagi mereka yang masih bertahan hidup disituasi Negara mereka yang sedang berperang untuk Ibu Guru yang begitu dekat dengan mereka dan mengenang masa-masa indah saat mereka kecil.

Ah, tokoh Ibu Guru di sini mampu membuat saya mengikuti moodnya saat membaca. Waktu beliau masih muda dan energik di awal, saya senyum-senyum bahkan tertawa seperti yang dia lakukan dan ikut menangis di bab yang berjudulkan Ibu Guru Cengeng. Saya ikut rapuh dibagian beliau juga rapuh. Saya juga senang dengan anak-anak yang digambarkan di sini, yang begitu semangat bersekolah meski harus berjalan kaki beriko-kilo, dan tidak kalah pentingnya sayangnya terhadap gurunya tidak hilang sampai mereka semua dewasa. Satu yang mengganjal hati saya saat membaca buku ini, penggunaan kata mantan murid dan matan guru. Saya selalu ingat kata-kata guru saya sewaktu SD, beliau bilang akan ada mantan pacar, mantan suami, tapi tidak ada yang namanya mantan guru atau mantan murid.

Overall, buku ini recommended. Saya juga suka sekali sampulnya, lucu.

Advertisements

6 thoughts on “Dua Belas Pasang Mata

  1. Dion says:

    Khas ya buku-buku seperti ini kayak baca komik2 Jepang yg berkisah ttg guru, tp menariknya ini karena ada versi dewasa dari murid-muridnya.
    Nah, enaknya pakai apa ya nerjemahin “mantan murid” atau “mantan guru”, sebab kalau “bekas murid” malah kesannya makin buruk. Pas saya cari di KBBI, mantan artinya “bekas pemangku jabatan (kedudukan)” …masih ada bekas-bekasnya juga huehuehue. Aduh enaknya apa ya *malah ngelantur

  2. Ira says:

    Aku baca reviewnya aja sudah mau nangis, hahhahh, *dasarcengeng*, tapi penasatan pengen baca eh. Buku-buku seperti ini biasanya sangat berkesan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s