Lima Sekawan: Karang Setan

enidblytonlimasekawankarangsetan_453

Five Go To Demon’s Rock

By Enid Blyton

Text copyright © 1961 Enid Blyton

Illustrations copyright © 1974 Hodder & Stoughton Ltd

All right reserved

Lima Sekawan: Karang Setan

ALihbahasa: Agus Setiadi

PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ketiga: Mei 1982

204 hlm

Tinggal dalam mercu suar tua di atas Karang Setan memang asyik. Apalagi ditemani Utik dan monyetnya, si Iseng.

Tetapi rupanya mercu suar itu dulu dipakai oleh seseorang pencoleng ulung untuk menyesatkan kapal-kapal. Dua keturunannya sampai sekarang masih menacari tempat persembunyian harta rampasan si pencoleng. Mereka merasa terganggu oleh kedatangan Lima Sekawan dan si Utik. Jadi kelima anak itu, dengan Timmy dan si Iseng juga, dikurung dalam mercu suar.

Teman Pak Quentin –ayah George- akan berkunjung ke Pondok Kirrin untuk menyelesaikan pekerjaan. Kedua sarjana itu adalah orang yang senang akan kesunyian dalam bekerja, padahal disaat yang bersamaan Julian, Dick, Anne, George dan Timmy bakalan datang juga untuk menghabiskan sisa liburan. Tentu Pondok Kirrin akan sangat ramai oleh anak-anak, ditambah teman Pak Quentin membawa serta anaknya yang bernama Utik dan juga seekor kerahnya bernama Iseng. Pusinglah Bibi Fanny, ibu George.

Untuk ketentraman bekerja kedua sarjana itu, akhirnya diputuskan kelima sekawan ditambah Utik dan Iseng pergi berlibur ke mercu suar milik si Utik, hadiah ulang tahun dari ayahnya. Mercu suar itu bertempat di Karang Setan, konon katanya kapal-kapal sering hancur ketika menabrak karang-karang yang runcing di situ, maka dinamakan Karang Setan.

Kelima sekawan ditambah Utik dan Iseng berkenalan dengan kakek Jeremiah yang selanjutnya menceritakan mereka sejarah dari Karang Setan dan mercu suar milik Utik, juga tentang pencoleng yang menyembunyikan hartasurian mereka di suatu tempat yang sampai skearang belum diketemukan.

Sampai suatu hari, Iseng yang kabur karena ketakutan menemukan sebuah keping emas. Keturunan pencoleng yang jahat, kakek Jeremiad dan kelima sekawan beserta Utik dan Iseng memulai petualangan mereka.

Tidak banyak yang bisa saya komentari kalau menyangkut Lima Sekawan ini, semuanya favorite saya! Saya serasa ikut berpetualang disemua petualangan mereka.

Di petualangan mereka kali ini saya suka ketika mereka tiap hari mengirimi orang-orang di Pondok Kirrin yang menanti dengan cemas keadaan mereka, Kartu Pos. Ah, rasanya romantis sekali anak-anak ini. Terutama Ibu George yang selalu mewanti-wanti mereka untuk mengiriminya surat setiap hari.

“Ibu-ibu memang semua sselalu begitu, Tapi tidak enak juga rasanya, jika punya ibu yang sikapnya tidak peduli.” – Dick (hlm 89)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s