Take Off My Red Shoes

IMG_20150716_131255

Take Off My Red Shoes

©Nay Sharaya

Editor: Anin Patrajuan

Desainer kover & illustrator: Dyndha & Lisa FR

Penata isi: Lisa Fajar Riana

Cetakan pertama: Juni 2015

Penerbit PT Grasindo

234 hlm

 Alia

Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna.AKu tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.

Alia

Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. APakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares

Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semua sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.

Kegan

Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seseorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus sahabatku sendiri.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Terima kasih hadiah buku dan tanda tangannya Kak Nay 😉

Atalia yang dipanggil Alia dan Natasha yang dipanggil Atha adalah saudara kembar yang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Walaupun kembar, mereka adalah sosok yang sangat berbeda. Alia yang gemar menari dan Atha yang gemar membaca buku. Suatu hari mereka berdua mendapatkan masing-masing sebuah hadiah, Alia dengan kesukaannya menari mendapatkan sepasang sepatu berwarna merah untuk kaki-kakinya yang lincah dan Atha yang kutu buku mendapatkan hadiah buku dogeng. Tapi tidak ada yang tahu kalau ternyata Atha juga menginginkan sepatu merah itu. Dilain sisi, ternyata buku dogeng yang didapat oleh Atha berisi tentang dongeng sepatu merah. Berawal dari situlah obsesi Atha mengenai hal-hal yang berwarna merah dan sepatu dimulai.

Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol dimanapun dia berada dan kamu nggak perlu kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing – Atha (hlm 32)

Sebuah keluarga akhirnya mengadopsi Alia dan Atha. Kini mereka merasakan lagi indahnya punya keluarga, mama, papa, kakak yang sangat baik. Tetapi sepertinya kebahagian itu cuma dirasakan Alia. Atha tidak mendapatkan perhatian yang layak, bahkan dari mama dan Kak Ares. Di sekolah pun dia tidak bergaul. Tapi apapun yang kamu lakukan, selalu aka nada yang tidak suka dan suka. Seperti Atha, akhirnya ada yang naksir.

Satu-satunya orang yang menyukaiku dan berani menunjukkannya adalah sesuatu yang penting – Atha (hlm 71)

Sebenarnya ada lagi satu cowok yang sangat perhatian kepadanya, Regan. Tapi Atha tidak pernah menyadari itu, dia malah mencari perhatian orang lain. Sedangkan di sisi lain ada perempuan yang manarik hati Kegan. Ah kadang memang hidup dan mencintai serumit itu.

Apa? Kamu nggak bisa melihatnya? Apa pilihan ini tidak menarik? Apa, apa menurutmu mencintaiku tidak menyenangkan? – Kegan (hlm 174)

Pada akhirnya, obsesi Atha tentang sepatu dan warna merah malah menimbulkan petaka bagi banyak orang, bagi kelaurganya, terlebih kepada Atha sendiri. Itu membuat dia menjadi dijauhi.

Lo nggak berhak marah sama orang yang cinta sama lo, seburuk apa pun dia. Seandainya dia bisa milih, dia bakal milih orang lain. Tapi lo tahu kan kalau dia nggak pernah diberi kesempatan untuk milih? – Kegan (hlm 212)

Pada dasarnya kita hanya bisa menginginkan sesuatu tetapi bisa saja sesuatu yang kita inginkan itu tidak bisa kita dapatkan, atau malah tidak baik untuk kita. Untuk itu kita harus selalu berlapang dada dan bersyukur

Tidak ada orang biasa di dunia ini yang bisa berbuat adil sepenuhnya. Hati mereka pasti akan memihak pada salah satu, itu adalah sebuah kepastian. Yang ada adalah, mereka yang berusaha untuk berbuat adil. (hlm 227)

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Atha? Dan bagaimana kisah keluarga dan pertemanan mereka?

Saya langsung tertarik begitu tahu novel ini terinspirasi dongeng dari penulis ternama, HC Andersen. Saya juga salah satu maniak dongeng, hehe. Suka juga dengan warna sampul bukunya. Dan, ternyata ceritanya memang menarik. Saya suka dengan cara Kak Nay menuliskannya, tetap khas gaya remaja yang ringan penuh konflik dengan teman, keluarga, dan juga asmara. Kak Nay berhasil membuat saya tidak ingin berhenti membaca hingga tuntas, Kak Nay berhasil membuat saya penasaran disetiap bab. Novel ini juga berhasil membuat emosi saya bercampur aduk, rasa kasihan, rasa tidak percaya, rasa gemas, dan jatuh cinta. Oke, saya adalah tipe pembaca yang mudah sekali jatuh cinta akan tokoh laki-lakinya, dan kali ini saya jatuh cinta pada Kegan, aaarrrrg. Hahaha.

Ada lagi, saya suka novel ini karena Kak Nay memasukkan beberapa judul buku-buku bagus (karena mengingat Atha adalah kutu buku) dan itu bagus untuk menambah wawasan baca bagi pembaca.

Atha baru membeli novel trilogy The Maze Runner karena tidak sempat menontonnya di bioskop. Juga beberapabuku fantasi hardcover lain yang dibelinya di Amazon. Dan itu membuatnya sedikit menyesal. Bukan karena membeli buku yang salah, tapi karena ia telah menggunakan uangnya untuk membeli sepatu mary jane merah terakota yang diincarnya waktu itu. Begitu juga ssat online dan meihat deretan kover buku-buku yang membuatnya lupa daratan. (hlm 79)

Dan saya merasa senasib sepenaggungan deh sama si Atha sebagai pecinta buku.

Kamu penasaran, ingin tahu seperti apa sosok Kegan? Baca deh!

Advertisements

34 thoughts on “Take Off My Red Shoes

  1. Nadia Puspa (@Nadia48nafla) says:

    aku suka dengan isinnya. Sblmnya nggak tau kalo novel ini terinspirasi sama slh satu dongeng, jd tertarik utk baca ini novel. Aku suka Atha, soalnya sm2 suka warna merah & kalo sdh punya obsesi akan sesuatu pokoknya hrs punya bagaimanapun caranya \ ‘_’ /
    stlh baca reviewnya, simple, menarik & to the point. And….. Thanks banget dah bikin penasaran sama sosok Kegan 😀

    Sekian, Terima Kasih.

  2. dianmayy says:

    Satu hal yang bikin saya penasaran, apa istimewanya sepatu merah hadiah ulang tahun itu sampai membuat Atha, si pecinta buku, sampai berpaling menginginkan sepatu itu juga dibandingkan dengan hadiah bukunya? Seistimewa itukah sepatu merah itu di mata Atha? Dan bagaimana sepatu merah itu menjadi inti dari cerita ini?

  3. vigestharepit says:

    Menurutku ini adalah novel yang nggak biasa karena terinspirasi dari dongeng. Saya jadi salut sekaligus penasaran gimana ceritanya Mbak Inayah bisa tercetus ide membuat novel yang yang terinspirasi dari dongeng klasik ini. Novel yang berkisah tentang Atha dan Alia, si kembar yang memiliki kebiasaan dan perlakuan dari mama dan Ares yang berbeda. Novel ini juga mengaitkan kisah tentang keobsesian Atha pada sepatu merah.
    Saya menyukai novel yang menyuguhkan kisah bertokoh kembar, orang tua dan saudara tiri. Apalagi dihadirkan juga tokoh laki-laki lain yang ikut berperan penting, Kegan. Membuat saya penasaran seperti apa saja konflik yang akan terjadi dan bagaimana cara para tokoh menyelesaikannya, bagaimana Mbak Inayah menghubungkan kisah ini dengan sepatu merah, dan bagaimana keobsesian Atha ini bisa membawa dampak buruk baginya dan orang disekitarnya.
    Deisgn covernya pun ciamik, membuat karya Mbak Inayah yang satu ini semakin elegan. Saya juga suka dengan judul novelnya. Good job, Mbak Inayah.

    Reviewnya bagus. Berhasil membuat saya untuk segera larut dalam novel Take Off My Read Shoes. Penjabarannya baik, tidak bertele-tele dan (yang pasti) tidak spoiler. Hehe. Jadi masih tetap bikin saya penasaran dengan TOMRS meski telah diceritakan sedikit dalam review ini. Apalagi kakak juga menuliskan kalau novel ini telah berhasil mengaduk emosi kakak.. Nah, makin deh dibikin penasaran:D
    Quotes pilihan kakak juga oke-oke.. Ketahuan nih kalo hanyut banget bersama kisah novel TOMRS ini.
    Namun ada yang kurang menurut saya, si penulis review tidak mencantumkan berapa rating yang ia berikan untuk novel ini. Meskipun sudah membaca kesan-kesannya tentang TOMRS, tapi menurut saya kurang afdol kalo belum dirating.:’D
    Saya juga menemukan beberapa typos, yaitu pada sinopsis nama tokoh, yang benar adalah Atha, bukan Alia.Lalu Regan, seharusnya Kegan. Dan ada juga beberapa kata typos lain yang saya temukan. Tapi itu tidak menjadi masalah kok, mengingat si penulis review ini juga adalah manusia biasa. Review ini masih tetap bisa saya baca dan pahami dengan cukup baik.
    Aniway, reviewnya keren dan berhasil mengajak saya untuk segera merasakan 1001 macam emosi saat membaca novel TOMRS.
    Bdw, ttd penulisnya bikin envy…… ><

    • dhaniramadhani says:

      sama, saya juga suka sama tokoh anak kembar. hehehe. Iya, masalahnya rata-rata emang typo yah, harus lebih hati-hati lagi. Terima kasih yah masukannya. Terima kasih juga sudah ikutan kuisnya. Good luck!

  4. Annisa Widi Astuty says:

    Komentar tentang Isi buku: Dengan membaca keseluruhan dari review di sini saya langsung ada gambaran bagaimana peliknya kehidupan anak kembar Alia dan Atha. Hm, berhubung saya terobsesi ingin terlahir kembar, saya jadi semangat baca reviewnya sekaligus tertarik mengikuti giveaway novel-nya Kak Nay. Saya salut banget, novel yang terinspirasi dari dongeng ternyata bisa jadi sebagus ini. Saya yakin Kak Nay jeli memperhatikan setiap detil karangannya sehingga novel ini tidak terkesan memplagiat dongeng yang sudah ada sebelumnya. Good job sekali untuk Kak Nay. Pandai sekali memilih sumber inspirasi. Bisa jadi panutan nih.

    Komentar tentang Review: Terima kasih sekali untuk Kak Dhani Ramadhani (nama berdasarkan alamat wordpress). Review nya bagus dan semakin menambah keinginan saya membaca novel ini secara keseluruhan. Gambaran kisah Atha yang pelik dan keberadaan tokoh cowok yang bisa buat kamu jatuh cinta membuat saya penasaran seperti apa sih sosok Kegan yang sesungguhnya dalam novel ini. Saya rasa saya juga akan jatuh cinta pada Kegan kalau begini ceritanya. Pastilah Kegan sosok yang tidak sempurna tapi bisa menghadirkan kesempurnaan dan kebahagiaan dalam novel ini. Aw, bisa klepek-klepek saya. Kemudian muncul pertanyaan di benak saya, jadi dalam novel ini yang paling menonjol adalah kisahnya Atha? (dibandingkan Alia, saudara kembarnya). Soalnya Alia tidak banyak dibahas dalam review ini. Sama ada sedikit masukan dari saya mudah-mudahan bisa dibenahi dan diaplikasikan pada postingan berikutnya. Dalam postingan ini masih ada beberapa typo. Saya sempat bingung pertama membaca karena nama ALIA ada dua di atas. Selain itu ada juga beberapa yang salah pengetikan seperti huruf yang terbolak-balik atau kurang huruf misalnya. Namun, typo nya tidak fatal kok. Masih sangat bisa ditoleransi. Yah… Kita sama-sama manusia jelas tidak bisa sempurna. Sama halnya saat saya berkomentar barangkali malah lebih banyak typo-nya. Saya minta maaf juga ya 🙂 Semangat untuk kita semua!

    Komentar tentang Tokoh:
    Alia dan Atha. Hm, pemilihan nama panggilannya menarik. Dengan begitu namanya lebih mudah diingat pembaca. Well done, Kak Nay! Ares dan Kegan juga nama yang bagus. Dengan membaca namanya saja langsung tergambar sosok dan perangai mereka dalam novel. Dan yang paling penting, penggunaan nama itu langsung membentuk sosok Ares dan Kegan dalam otak saya. Saya menduga pastilah Ares dan Kegan dua cowok yang berwajah tampan. Apakah saya benar? Mungkinkah itu artinya Atha jatuh hati pada Ares yang merupakan kakak tirinya saking tampannya? Aduh, apa yang akan terjadi selanjutnya? Membuat penasaran saja!

    Kegan

    Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seseorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus sahabatku sendiri.

    Dari kalimat itu aku langsung menjudge bahwa Kegan adalah cowok perhatian. Iya, soalnya Kegan berarti rajin memperhatikan Atha. So sweet sekali Kegan. Sayangnya saat Kegan menatap Atha, Athanya malah menatap cowok lain yaitu kakak tirinya sendiri. Sedih banget. Pasti Kegan juga berjuang untuk mendapatkan hati Atha.

    Over all review-nya bagus, Kak. Sukses selalu 🙂

  5. hanisaaprilia says:

    Hallo kak Dhani, salam kenal ^^

    Pendapatku tentang isi cerita ini:
    Awalnya aku liat cover novel ini lewat di explore instagramku, dengan penasarannya aku baca reviewnya di bukabuku.com dan… wuaa aku dibikin nanya-nanya se istimewa apa itu sepatu merah, dan apa yang memdasari keluarga si kembar menganak emaskan salah satu di antara mereka. Apa kurang lucu atau bagaimana itu satunya lagi? Hahaha oke ini abaikan, aku becanda xD

    Pendapat aku tentang tokoh:
    Jujur, dari reviewnya aku udah benci banget sama Alia yang terlalu ambisius atau apalah itu, dia terlalu serakah, padahal itu saudara kembarnya semdiri tapi kok aku rasa dia terlalu berlebihan kadar “ke-iri-an”nya, dan mungkin sikapnya yang seperti itu diakibatkan sikap orang-orang yang memanjakannya.
    Lalu Atha, ah dia gadis yang bener-bener malang. Dia terlalu takut sepertinya untuk melawan, ya logikanya sih ibaratin 1:1000 ya kalo dia ngelawan, malah bisa jadi semuanya akan berbalik ke dia, lebih parah mungkin?
    Tentang Kak Ares, aku juga gak tahu kenapa kakak mereka ini lebih sayang Alia daripada Atha. Apa yang salah? Ah dia terlalu jahat untuk disebut kakak
    Dan terakhir Kegan, Ahh…aku gak bisa bicara panjang lebar utk si Kegan ini, takut malah jadi curhat hahahaha #plak. Tapi sepertinya Kegan terlalu penakut krna lebih memilih bungkam daripada bertindak. Setidaknya dia tau, Kegan. Walaupun reaksinya seperti apa yg sudaj kamj perkirakan.

    (P.s: ah maaf ya kalo review mengenai tokohnya ini aku so tau *peace*)

    Pendapatku tentang review ini:
    Terima kasih Kak Dhani sudah buatkan review yang bikin aku kembali jerit-jerit penasaran sama isinya hihihi. Duh rasanya aku gak pantas banget buat komen review bagus ini, karna ya aku belum pernah post tentang review-mereview jadi rasanya seperti murid mengajari guru yg notabene lebih mengerti.
    Tapi, akan ku coba ya…
    Jadi review ini bener-bener bikin yang bacanya bener-bener penasaran. Membuat yang baca benar-benar ingin tau, sebenarnya apa motif di balik masalah yang di kemukakan di atas. Overall bagus sekali, apalagi penyampaiannya yang kalem hahaha. Tapi sepertinya ada kesalahan menyebut nama, tapi entahlah mungkin otak akunya yang lemot mencerna hahaha

    Sekian pendapat dari aku, maaf kalo ada yg menyinggung atau apapun itu. Terima kasih^^

  6. Aya Murning says:

    Haduh, sebenarnya aku tu sebelumnya nggak pernah denger atau baca dongeng sepatu merah yang penuh kutukan ini. 😀
    tapi gara-gara ada novel ini yang baru terbit dan beberapa waktu lalu ada giveaway-nya di blog sebelah, saya jadi searching deh. Jujur aja, kalau baca dongeng aslinya aku nggak bisa menangkap inti atau makna ceritanya, rada thriller, serem, dan ending-nya agak gimana gitu ya. 😦

    Jadi, aku lebih berhasrat untuk lebih mengenal dongengnya dari novel ini aja deh, kayaknya lebih realiatis dan manusiawi. KAYAKNYA ya. Kan aku belum baca keseluruhan cerita di novel ini. 😀

    Btw, tadinya aku mengharapkan ada banyak dicantumkan quote yang nyentil gitu. Memamg nggak banyak kan? Atau mungkin penulis review ini penginnya si pembca nemuin sendiri ya. Haha.

    Kalau sudah dikatakan isi novelnya bikin ngerasa begini dan begitu, baiknya dikasih gambaran dikit kenapa si reviewer sampai merasakan itu. Tapi tentunya tidak sampai spoiler ya. Kalo yang ini isi review-nya udah oke kok, udah dikasih beberapa quote yang berhubungan dengan apa yang dibahas, cuma sayangnya dari opini di poin yang lainnya masih kurang detil supaya jadi bukti otentik kenapa bukunya layak disukai dan digandrungi. 😉

    Oh ya, Ares apa kabarnya nih? Tidakkah ia membuatmu jatuh cinta juga? Apa karena ia termasuk yang nyuekin si kutu buku, nggak kayak Kegan? ❓

    Oke, itu aja komentar dari aku. Sekian dan terima kasih. ❤

    • dhaniramadhani says:

      Iyah dongeng sepatu merah memang serem dan novel Kak Nay ini juga bisa dibilang serem loh, Hihi. Terima kasih untuk masukannya Aya,next review bisa diamalkan 🙂

      Kak Ares yah, kamu bisa mengerti dan merasakannya setelah membacanya 😀

  7. evita says:

    Wah reviewnya bikin penasaran. makin penasaran karena mereka kembar tapi sifatnya beda, kan?
    baca sekilas ga puas kak 😀
    btw aku nggak tau dongeng sepatu merah… aaah makin penasaran…
    huaaaa aku juga gitu tuh, beli buku bikin tekor tapi suka buku ^^
    mau novel ini juga supaya bisa bikin review ^^

  8. Haryanti Putri Rizal says:

    Pertamakali membaca judulnya “Take off My Red Shoes” saya memang merasa agak familiar. Ternyata memang diadaptasi dari dongeng HC Anderson. Kebetulan banget dengan saya juga suka sepatu warna merah. tapi tidak suka sepatu merahku dicopot (take off). 😀
    Pemilihan tokoh Atha, Alia, Ares, dan Kegan sedikit bagiku sedikit membingungkan sebab tigah tokoh utama semua berawalan “A”. Mungkin akan berbeda kalo sudah baca novelnya lebih lanjut.
    Oh ya, mengenai reviewnya masih kurang tajam. hehe. Mbak Dhani sebaiknya menggambarkan sosok Alia, Ares, dan Kegan menurut versi sendiri. bagaimana kedudukannya terhadap tokoh utama, dan seberapa penting dalam sepanjang cerita. Penggambaran yang lengkap akan membuat calon pembaca akan semakin tertarik membaca novelnya. Dan jangan lupa kasih rating yah.. 🙂

    Hormatku: Haryanti Putri Rizal (@haryantiputrirz)

  9. Defky says:

    Pertama kali baca reviewan ini tuh penasaran. pas udah dibaca kok familiar ya? padahal cuma baca reviewannya tp udah nyesek dan nangis,apalagi baca keseluruhannya p @DefkiellyN

  10. Muhammad Arsyad Yahya says:

    Nama: Muhammad Arsyad Yahya
    twitter: @arsyad_yahya

    Novel yang mengadaptasi dari cerita dongeng tentu akan lebih menarik karena seperti menghadirkan nuansa berbeda. Sebab mungkin mengikuti pola yang ada dari cerita karya Andersen. Ini tentu akan menarik karena novel-novel Nay Sharaya sebelumnya tidak mengadpsio cerita tertentu. Saya penasaran seperti apa karakter tiga tokoh-tokoh berinisial A tersebut. Apalagi ada sosok Kegan yang kuharap tak menjadi pencilan dalm cerita. Semoga ceritanya benar-benar merah 😀
    Review dari mbak Dhani tidak adil. Hanya mengomentari Atha dan Kegan. Padahal Alia dan Ares patut pula dibahas dalam review. Selebihnya okelah. Terima kasih atas reviewnya.

  11. thiamelia says:

    Saya sudah beberapa kali mengikuti giveaway dari novel Take off My Red Shoes ini, tapi mungkin yang kemarin-kemarin belum jodoh, jadi saya ikut giveaway ini. Bukan hanya alasan ‘saya ingin membaca novel’ ini ketika saya mengikuti GA ini, seperti Atha yang terobsesi pada sebuah sepatu merah, saya juga mungkin terobsesi untuk membaca buku ini, dilihat dari segala hal nya, buku ini memang menarik untuk dibaca. Covernya, quote-quote nya, serta tulisan singkat yang ada dibelakang novel ini itu sudah membuat saya sangat penasaran, apalagi riview yang dijabarkan oleh kakak, jadi makin penasaran kan sama ceritanya.

    Bukan hanya permasalah pada obsesi Atha dengan sepatu merah nya yang membuat saya penasaran, atau dengan Kegan yang mencintai Atha, bukan juga hanya dengan Alia yang ingin memiliki Atha, atau Ares yang salah menafsirkan kata adil, tapi justru karena perjuangan Atha yang membuat saya penasaran. Bagaimana seorang Atha yang mendapat keadilan yang kurang harus berjuang agar ia mendapat kasih sayang yang sama dengan Alia, bagian itu yang ingin saya ketahui dari membaca novel ini. Bukan hanya tentang dongeng, obsesi dan cinta, tapi yang menbuat saya suka adalah tentang semangat, tentang bagaimana cara nya berjuang mendapat pengakuan yang novel ini ceritakan. Mungkin itu adalab alasan mengapa saya lebih memilih mengikuti GA dari novel ini saja dulu, sebelum membeli, karena yaaahh sesuatu yang didapatkan karena perjuangan aka lebih bernilai harganya, membuat kifa lebih bisa menghargainya, itu yang saya dapat dari kisah Atha, walaupun belum membaca secara full, tapi efek nya sudah ada haha..

    Sukses terus untuk penulis, agar terus bisa membuat karya yang membuat orang lain tergiur untuk membeli, dan buat kak Dani Ramadhan, supaya terus membuat riview novel, yang membuat orang lain tertarik untuk membeli novel itu.

    twitter: @Thia1498

    • dhaniramadhani says:

      Wah, semangat terus yah! ih sama deh, lebih bagus kalau dapetin sesuatu karena usaha yah. Hihi.

      Nah, bakal banyak konflik lagi loh di novel ini. Usaha Atha lebih banyak lagi.

      Terima kasih yah. Good luck!

  12. Pramestya Ambangsari says:

    Baru tau hari ini ada GA ini :3

    Setelah baca tulisan diatas, aku merasa kalau cerita ini seperti dongeng anak kecil yang berpusar pada konflik antarsaudara yaitu rasa iri. Hanya saja, dongeng ini bukan dongeng pengantar tidur karena dikemas dengan gaya hidup remaja yang full of love antar lain jenis, dan pastinya konfliknya juga beda dari dongeng-dongeng lain.

    Kegan sama Ares ❤ bikin penasaran sama karakternya.
    Juga tentang konfliknya. Itu Ares jatuh cinta sama salah satu adiknya ya?
    Ini ceritanya berdasarkan salah satu dongengkah?
    Akhirnya, Ares dan Kegan sama siapa?

    Pertanyaan-pertanyaan saya harus ada jawabannya dengan cara kirim saja novelnya ke saya kak :v

  13. Nurina Widiani says:

    Hmmm nama Natasha kenapa jadi Atha ya, kok bukan Asha aja? wkkkk~
    Tapi lebih berasa serius Atha daripada Asha sih :p
    Pilihan inspirasi dongengnya nggak biasa nih, pasti risetnya lebih lama ya? Aku suka sama penulis yang nyari bahan yg lebih menantang. Kayak Kak Nay ini ^^

    Untuk review, mau tau dong kenapa jadi tim Kegan ^^ Pengennya sih lebih dijabarin sedikit lagi karakter2nya biar nggak merasa ngambang. Tapi udah bagus kok, karena menampilkan kekuatan2 novel ini, dan sepertinya nggak ada kelemahannya ya?
    Oh iya, masih ada typo di review 🙂
    Nggak fatal kok, semacam penulisan kata depan, cuma demi kenyamanan pembaca review aja 🙂
    Eh iya satu lagi, tokoh yang perhatian itu memang namanya Regan atau typo?
    Tetap semangat membaca dan mereview ya Kak Dhani :))))

    @KendengPanali

  14. nuhifastory says:

    Take off my Red Shoes
    Dari judul sama sampulnya aku langsung tertarik. Kayak yang dibilang Atha, sesuatu yang berwarna merah itu akan selalu mencolok dan itu yang aku rasakan, karena perpaduan percikan warna merah di sampulnya seolah-olah memberi ‘ucapan selamat datang’.

    Beralih ke tokoh, aku suka cara Kak Nay meracik karakter tokohnya dengan ‘kuat’. Walaupun baru baca resensinya, tapi aku benar-benar merasa tokoh-tokohnya hidup, terutama Atha, Alia, dan Kegan. Overall, aku sangat tertarik buat baca (dan memiliki, pastinya) novel Take off my Red Shoes ini. Apalagi tadi sedikit diulas kalau novel ini punya banyak konflik yang rumit, aku selalu suka novel yang punya konflik bejibun, hehe.

    Kalau soal resensi aku nggak bisa komen apa-apa sih ya, udah bagus soalnya. Benar-benar ngupas, informatif, dan merangkul orang-orang yang baca resensi ini buat segera baca Take off my Red Shoes. Cuma mungkin satu hal yang harus lebih diperhatikan itu kefokusan waktu buat resensinya, karena aku menemukan dua (mungkin) kesalahan. Seperti Alia yang seharusnya Atha di kata awal, dan Regan (ini yang buat aku bingung, apa memang ada yang namanya Regan, atau seharusnya Kegan?)
    Selebihnya sih udah oke. Oh iya, satu lagi yang aku suka dari resensinya, yaitu Kak Dhani mencantumkan kutipan-kutipan ‘menggiurkan’ yang membuat pembaca resensi semakin gereget buat cepat-cepat baca novelnya. Dan ini salah satu kutipan yang aku suka:
    Tidak ada orang biasa di dunia ini yang bisa berbuat adil sepenuhnya. Hati mereka pasti akan memihak pada salah satu, itu adalah sebuah kepastian. Yang ada adalah, mereka yang berusaha untuk berbuat adil. (hlm 227)
    Pokonya novel resensinya keren! Bikin aku nggak sabar buat baca 😀

    Terima kasih.

  15. widyaneva says:

    Hai kak Dhani…Widya ikutan yaaaa

    Isi bukunya berhubungan tentang dongeng ya…setelah baca review ini aku baru sadar ;D sudah lama tidak baca dongeng. Merenung, dongeng apa yang pernah aku baca? Kapan terakhir punya buku dongeng? dan lain-lain. Saat ke toko buku, aku segera ke rak dongeng. Ambil satu, langsung ke kasir ^_^ Buku dongengnya tentang musim gugur. Aku belum pernah merasakannya. Tapi membaca dongeng-dongeng ini, bisa sedikit punya gambaran. Betapa indahnya ya…

    Kurasa reviewnya menarik. Penasaran, kenapa Atha jadi terobsesi sama sepatu merah itu. Kadang kupikir…seperti ada sisi darinya yang kumiliki. Juga Ares itu, kenapa sepertinya dia tidak adil membagi kasih sayang kepada adik-adinya ya? kenapa??? 😀

    Tokoh-tokoh dalam novel ini nampak kuat karakternya. Itu merupakan ciri khas novel karya kak Nay ya ^_^. Sebelumnya aku sudah pernah baca novel Forgotten. Kaisar adalah salah satu tokoh kesukaanku hehe…

    Terima kasih atas reviewnya ya kak… (y)

    Take Off My Red Shoes (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s