Terminal Hujan

terminal hujan

Terminal Hujan

Penulis: hQZou

Editor: Diaz

Proofreader: Ainini

Tata sampul: Ann_Retiree

Tata isi: Violet V

Cetakan Pertama, Februari 2015

Penerbit de TEENS

232 hlm; 13×19 cm

Untuk berobat sang bapak, diam-diam Farah mengamen. In membuat nilainya buruk sehingga tidak naik kelas. Di sisi lain, Valesia terketuk hati untuk mendirikan sekolah bagi kaum marginal. Dengan meneruskan perjuangan Umi Hasna, Valesia dan pengajar lain mendirikan Terminal Hujan. Perjuangan Terminal Hujan tak selalu lancar. Kantor kelurahan yang biasa dipakai belajar tiba-tiba hanya boleh digunakan untuk urusan kelurahan saja. Akhirnya mereka belajar seperti di sekolah alam. Lalu, Farah harus rela ditinggalkan Bapak selamanya. Ia berjuang bersama Ibu. Kisah-kisah yang menyentuh dan akan membekas dalam benak kita.

Valesia, perempuan yang sangat peduli kepada anak-anak berinisiatif mendirikan sekolah untuk anak-anak marginal. Dia pun memanggil teman-temannya untuk membantunya, tentu saja teman-teman yang se-visi dengannya. Awalnya karena dia pernah bertemu dengan seorang anak yang memulung dan tengah kelaparan. Sejak itu, Valesia mulai memikirkan bagaimana anak-anak yang kurang mampu membiayai sekolahnya atau yang kurang pengawasan di rumah karena orang tua dan anaknya sendiri bekerja dapat memperoleh pelajaran dengan baik.

Awalnya Valesia ragu, tetapi dia punya teman-teman yang bersemangat dan selalu mendukungnya.

“Semangat, Ca! Gue yakin pasti akan selalu ada jalan untuk orang-orang yang ingin berbuat kebaikan seperti ini. Dan, akan selalu ada titik-titik bintang yang akan menuntun kita.” – Maya

Valesia dan teman-teman pun bertemu dengan Umi Hasna yang juga mengajar anak-anak marginal. Umi Hasna mempercayakan kepada Valesia dan teman-temannya untuk mengambil alih pekerjaan Umi karena beliau sudah tua. Dengan kesepakatan bersama, akhirnya terbentuklah Terminal Hujan.

Kenapa Terminal Hujan?

“Nah, artinya hujan itu membawa kebahagiaan dan keceriaan. Dan semoga sekolah kita ini juga membawa kebahagiaan, keceriaan dan tentunya prestasi yang membanggakan.” – Valesia

Mereka semua juga mengajak Fara, yang pernah mereka temui di jalan sedang mengamen dengan temannya yang bernama Tisa. Setelah berkenalan, Valesia pun tahu kalau ternyata Fara mengamen karena ingin mengumpulkan uang untuk ayahnya yang sedang sakit. Tapi, karena kegiatan mengamennya itulah yang membuat Fara menjadi tidak naik kelas sehingga membuat ibunya marah besar. Farah pun takut untuk pulang ke rumah. Tapi pada akhirnya ibu Farah mengerti bahwa itu terjadi karena beliau hanya menyuruh Fara belajar tanpa menutunnya.

Terminal Hujan maju, banyak volunteer yang akhirnya mendaftar untuk mengajar. Terminal Hujan juga akhirnya masuk Koran. Tapi, apapun itu tidak serta merta bahagia terus. Ada juga hambatan yang mereka temui.

***

Pertama, terima kasih banyak untuk Haqi yang memberikan bukunya dengan cuma-Cuma, hehe. Selamat yah Qi atas terbitnya novel debut ini, sukses terus, semangat juga untuk terus mengajar di Terminal Hujan, salam untuk anak-anak di sana. Terima kasih juga (mewakili anak-anak Love Books A Lot ID) atas ucapan terima kasihnya di kata pengantar, hehe.

Novel ini sukses membuat saya terharu. Memang yah kalau urusan anak-anak membuat hati selalu bergetar. Semoga akan selalu ada orang-orang yang peduli atas pendidikan anak-anak. Terutama yang benar-benar membutuhkan.

Saya juga suka karena Haqi menambahkan kisah percintaan di dalammnya. Apa yang lebih indah memang dari kisah cinta? Komplit deh, dari kisah cinta kepada anak-anak, pendidikan dan juga kepada lawan jenis. Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s