Pre Wedding in Chaos

pre wedding in chaos

Pre Wedding In Chaos

Elsa Puspita

Cetakan Pertama, Oktober 2014

Penyunting: Pratiwi Utami

Perancang sampul: Wirastuti

Pemeriksa aksara: Septi Ws, Intan Sis

Penata aksara: Endah Aditya

Diterbitkan oleh Penerbit Bentang

vi+286 hlm; 20,5 cm

“Ayo kita menikah.”

What? Apa sih yang barusan kuucapkan? Mengajak Raga menikah? Padahal menikah bukan prioritasku. Tapi, rasanya jahat sekali kalau aku menarik ucapanku. Jelas-jelas aku melihat binary bahagia dari wajahnya, setelah seribu kali kutolak lamarannya.

Damn! But life must go on, Aria. Ketimbang kuping panas mendengar sindiran Mami dan ocehan Citra yang sudah kebelet nikah, tapi tidak dibolehkan Mami karena kakak perempuannya ini belum menikah. Mari, akhiri saja drama-desakan-desakan-menikah itu dengan menuruti keinginan mereka.

Namun, kekacauan itu terjadilah. Konsep acara, undangan, pakaian, catering. Ditambah lagi perbedaan prinsip antara aku dan Raga. OMG, kemana saja aku selama ini? Sudah pacaran Sembilan tahun tapi belum mengenalnya luar dalam.

Belum menikah saja sudah begini, bagaimana besok setelah tinggal serumah dan seumur hidup?

Kenapa orang yang awalnya saling jatuh cinta akhirnya mutusin nikah?

Mereka butuh komitmen, buat pertahanin kebersamaan mereka walaupun nanti perasaan yang bikin mereka mutusin buat nikah tiba-tiba hilang. Kita kadang nggak bisa bedain perasaan cinta atau Cuma rasa terbiasa sama kehadiran pasangan kita. Yang mana pun, akhirnya, ya, itu yang bikin kita bertahan – Mayang (hlm 98)

“Ar, Denah nikahnya bulan ini, ya? Kamu kapan dong Ar?”

“Raga udah dilangkahi dua kali dan lu masih keras nggak mau nikahin dia?”

Pertanyaan dari orang rumah dan teman-teman kantornya tidak pernah berhenti, membuat Aria sakit kepala. Bagaimana tidak, dia sudah pacaran dengan Raga selama sembilan tahun lamanya dan belum juga ingin menikah. Raga adalah dosen dan punya pekerjaan sampingan lainnya, Aria bekerja sebagai editor di salah satu majalah. Lalu, apa yang membuat mereka tidak juga menikah?

Bukannya Raga tidak pernah melamarnya, Aria saja yang tidak menempatkan menikah pada prioritas utamanya.

Adit, temannya yang rada kemayu saja sudah punya anak satu. Nessa sahabatnya yang satu lagi sebentar lagi akan naik kepelaminan. Nessa terus mendesaknya, Adit terus menerornya. Tapi nihil.

Nek yah, dengerin gue. Nggak ada laki-laki di muka bumi ini yang benar-benar mau nikah. Kami kaum bebas. Petualang sejati. Kalau laki lu sampai udah ngajak nikah, itu Cuma berarti satu hal. Dia percaya kalau lu yang paling pantas temenin dia seumur hidup – Adit (hlm 10)

Mereka semua bilang kalau dia hanya jalan di tempat dan tidak berkembang. Tetapi Aria adalah perempuan yang sangat keras kepala. Dia menganggap angin lalu saja ledekan dan nasihat teman-temannya.

Kalau lu nikah, banyak yang bisa dikembangin. Adaptasi ulang, yang tadinya beda rumah, jadi satu ranjang. Yang tadinya saling asing, belajar jadi suami istri. Terus, entar sama-sama belajar jadi orang tua. Dan, seterusnya. Lebih seru daripada pacaran – Adit (hlm 33)

Pikirin baik-baik. Nikah itu bukan kayak pacaran, Nek. Nggak bisa langsung minta putus pas lu ngerasa udah nggak kecocokan lagi. Itu komitmen sama tanggung jawab yang lebih besar. Nggak cuma antara lu sama Raga, tapi udah tentang ikrar kalian sama Tuhan – Adit (hlm 54)

Tapi, entah dapat ilham dari mana atau kupingnya sudah semakin panas mendengar pertanyaan tentang nikah dari Mami, Citra adiknya dan sahabat-sahabatnya, Aria malah megajak Raga menikah. Wah wah wah, enam tahun Raga menanti jawaban Aria!

Aku nggak akan pernah yakin buat nikah. Tapi, aku bisa coba yakin sama kamu. Kalau bukan kamu, terus siapa? Aku masih takut ngebayangin apa yang terjadi nanti. Tapi selama sama kamu, kita bakal baik-baik aja, kan? – Aria (hlm 59)

Tapi, tapi, di sinilah puncak chaos-nya ini pre wedding. Mami Aria, Ibu Raga mulai sibuk ngurusin ini itu, heboh. Bagaimana tidak heboh pernikahan anaknya yang ini paling ditunggu-tunggu. Pikiran-pikiran negatif Aria bermunculan. Desain undangan yang banyak, fitting baju pengantin yang beberapa kali bukan hal yang bikin masalah. Pikirannya malah kea rah Raga bakal poligami, tidak ingin punya anaklah. Pokoknya Aria ribet!

Sayang, ngajak kamu nikah aja perjuangan banget Sembilan tahun. Ngapain pula ditambah pusing mau satu istri lagi? Kamu akhirnya mau jadi istriku udah lebih dari cukup – Raga (hlm 141)

Tujuan utamanya emang biar dapat teman hidup.tapi sebenar-benarnya niat orang nikah itu buat bentuk keluarga baru kan? Yang namanya keluarga, ya, ada ayah, ibu, anak – Citra (hlm 194)

Jadi, apakah Aria tetap jadi nikah dengan Raga?

****

Geregetan!

Baru kali ini saya baca buku emosi jiwa dengan tokoh utama perempuannya. Huhuhu. Gimana nggak kesel, banyak perempuan di luar sana pada galau nikah karena nggak ada yang lamar, belum cukup uang untuk bikin pesta, nggak direstui sama orang tua dan segala tetek bengek masalah pernikahan, eh si Aria yang mulus-mulus aja malah nggak mau nikah! Punya pacar kayak Raga yang mapan, tampan dan penyabar gitu juga. Errrrr. Okeh saya berlebihan, mungkin ini sebagian dari curhat. Hahaha.

Mbak El, suskes deh bikin saya galau dengan cerita dibukunya. Sumpah, saya sampai nangis di akhir cerita. Saya nggak nangisin Aria, tapi Raga. Uh pokoknya masih sebel sama Aria. Hahaha.

Terima kasih (lagi) untuk hadiah bukunya mbak El 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s