Sabtu Bersama Bapak

sabtu bersama bapak

Sabtu Bersama Bapak

Penulis: Adhitya Mulya

Penyunting: Resita Wahyu Febiratri

Proofreader: Yuke Ratna P. & Mita M. Supardi

Penata letak: Landi A. Handwiko

Desainer sampul: Jeffri Fernando

GagasMedia

Cetakan kesembilan, 2015

x+278 hlm; 13×19 cm

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.

“Ini Bapak.

Iya, benar kok, ini Bapak.

Bapak Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetp dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban. I don’t let death take these, away from us. I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian. Bapak sayang kalian.”

“Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.”

“Iya, sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. Mama tahu itu. Bapak juga gitu, dulu.” – hlm 17

Cakra yang sudah mapan dan menginjak usia kepala tiga tidak henti-hentinya disuruh oelh mamanya untuk segera mencari pacar, bukan hanya mamanya, melainkan teman-temannya di kantor. Cakra dan Satya kakaknya telah dibekali video oleh ayahnya yang meninggal ketika mereka masih kecil, pedoman-pedoman, nasihat dan pengalaman sang Bapak yang dituang dalam video itulah yang menuntun mereka. Sampai mereka dewasa, bahkan urusan rumah tangga. Dan Cakra belum mendapatkan perempuan yang cocok seperti yang dia pelajari dari nasihat-nasihat Bapak.

Begitupula pada kehidupan rumah tangga Satya, ketika ada masalah dengan istrinya, Satya memilih untuk memutar kembali video Bapak dan itu selalu berhasil membuatnya kembali tenang dan berubah lebih baik dan bijaksana.

Mendiang Bapak telah mengajarkan kepada anak-anaknya dalam sebuah posting, bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. – hlm 80

Bapak benar-benar menyiapkan masa depan keluarganya dengan baik, dan itu dilakukannya ketika dia sakit. Menyiapkan tabungan untung sang istri, menyiapkan video untuk menemani anak-anaknya, ada video khusus disetiap ulang tahun mereka. Sejak Bapak meninggal, mama mereka selalu memutar video untuk mereka di setiap Hari Sabtu. Jadi, sejak kecil mereka selalu menghabiskan Hari Sabtu di rumah daripada keluyuran dan jalan-jalan.

Ah…. Buku ini mengharukan sekali. Saya yakin, benar-benar ada Bapak seperti beliau, laki-laki yang begitu mencintai istri dan anak-anaknya. Setiap wanita pasti ingin punya suami seperti beliau (tapi tidak dengan nasib yang sama) *saya juga, amin.

Banyak nasihat-nasihat yang membuat saya malah menangis sambil mengangguk-angguk setuju. Bahkan saya niatkan untuk nanti dibaca juga buat si dia, emmmm. Kan… baper. Iya buku ini baper banget. Hihi.

Terima kasih buat Mas Adit telah membuat buku ini. Jadi nggak sabar nonton filmnya. Apalagi ketemu Cakra….. hahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s