The Curious Case of Benjamin Button

benjamin

Curious Case of Benjamin Button

Scott Fitzgerald

Penerjemah: Fanny Chotimah

Desain cover: Isthis comic

Editor: Bandung Mawardi

Penerbit Katta

96 hlm; 13,5 x 20,5 cm

Hildegarde melambai-lambaikan bendera sutra besar, menyapanya di teras. Saat Benjamin menciumnya, ia merasa dengan kedalaman hati bahwa tiga tahun sudah diamil dari mereka. Dia adalah seorang wanita yang empat puluh tahun sekarang. Dengan samar, tampak pertempuran garis uban di kepalanya. Pemandangan itu membuat Benjamin tertekan.

Sampai di kamarnya, ia melihat bayangan yang dikenalnya di cermin. Ia pergi mendekat dan memeriksa wajahnya sendiri dengan kecemasan, membandingkannya dengan foto dirinya berseragam yang diambil sebelum perang.

“Ya, Tuhan!” katanya keras. Proses ini terus, tidak bisa diragukan lagi. Sekarang ia tampak seperti orang berusia tiga puluh tahun. Bukannya senang, ia malah merasa gelisah. Ia tumbuh muda. Hingga kini ia berharap tubuhnya bisa terlihat setara dengan umurnya. Ini fenomena mengerikan yang ditandai kelahirannya sedang akan berhenti fungsi. Dia bergidik. Takdirnya angat luar biasa mengerikan.

Untuk menambah ketidakberdayaannya, ia menyadari bahwa bad baru semakin dekat, kehausan akan kesenangan semakin kuat. Tak pernah sebuah acara apapun di kota Baltimore dilewatkannya.berdansa dengan wanita muda tercantik yang sudah menikah, mengobrol dengan debutan terpopuler, dan menjalankan perusahaan dengan penuh pesona. Sementara, istrinya tampak eperti seorang janda culas. Duduk diantara pengantarnya, menjadi angkuh karena penolakan. Sekarang mengikutinya dengan serius, bingung, dan mata mencela.

“Lihat!” orang akan berkomentar. “Sayang sekali, seorang pemuda seudia itu terikat pada seorang perempuan empat puluh lima tahun. Ida harus dua puluh tahun lebih muda dari istrinya.”

Mereka sudah lupa, sebagian orang-orang pasti lupa, yang mestinya ingat kembalikejadian tahun 1880. Semua orang juga berkomentar sama tentang hal ini, pasangan sakit yang cocok.

Roger Button, seseorang yang mempunyai kedudukan penting di Baltimore agaknya harus menanggung malu. Pasalnya, istrinya melahirkan seorang bayi yang lain daripada yang lain. Roger Button syock dan tidak tahu harus berbuat apa kepada anak yang sangat dinanti-nantikannya itu. Mimpinya untuk mengirimkan anaknya ke Yale College Connecticut pupus sudah. Anak terlahir sebagai lelaki tua, tampaknya sekitar usia tujuh puluh tahun, rambut tipisnya hampir putih, dari dagunya tampak jenggot panjang seputih setipis asap. Apa yang terjadi?

Anak yang kemudian diberi nama Benjamin it uterus melalui hari-harinya dengan sangat janggal. Ayahnya sedikit frustasi. Tidak ada sekolah yang mau menerimanya, pihak sekolah selalu mengira dia penipu, menipu dalam tindak memalsukan usia karena wajahnya tidak seperti usianya.

Sampai dia sudah dua puluhan tahun, dia bertemu dengan seorang gadis yang mengira dia sudah berumur lima puluh tahun. Gadis itu akhirnya menjadi istrinya, dulu dia beralasan sangat menyukai pria yang berumur lima puluh tahun karena pemikirannya sudah matang, tidak seperti pria berumur dua puluh tahun.

Lama kelamaan, hidup Benjamin berbalik arah. Dia kemudian mendapati istrinya semakin tua, keriput dan tidak menarik, sementara dia kini menjadi pemuda yang tegap dan gesit. Dia mulai bosan melihat istrinya yang tidak sepadan dengannya. Terlebih ketika dia memiliki seorang anak, dia merasa anaknya sebaya dengannya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan kehidupan Benjamin?

***

Yang bisa saya ambil pelajaran dari buku ini adalah apapun yang telah kamu lakukan, apapun yang terjadi pada hidupmu kamu akan terus mendapatkan komentar dari orang lain. Jadi, jalani saja hidupmu dengan suka cita, bersyukur dan berbahagialah.

Benjamin yang terlahir dengan wajah tua semasa kecilnya selalu diejek, selalu diacuhkan dan tidak diterima. Dia juga tidak pernah mau terlahir tidak normal, tapi dia mampu menjalani hidupnya. Well, mungkin memang dnegan tidak baik-baik saja. Dia menemukan hidup normalnya ketika menikahi seornag gadis cantik, itupun dengan kesalah pahaman. Benjamin tua juga aneh, dia malah diacuhkan oleh anaknya sendiri.

Yah, Fitzgerald memang pandai sekali memainkan imaginasinya di sini. Belum adakah yang kehidupannya bertumbuh dari tua menjadi muda, atau sudah ada? Walaupun belum, cerita ini tetap asik. Walau yah, terjemahannya agak kurang bagus. Masih ada kalimat-kalimat yang kurang enak dibaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s