Jawaban #AskAuthor Berlabuh di Lindoya Bersama K. Fischer

blogtour06dhani

Wah peserta #AskAuthor ada 42 orang dengan jumlah pertanyaan 200,walau ada (beberapa) yang pertanyaannya sama. Ini saya gabungkan beberapa pertanyaan yang sama yah, yang belakangan bertanya mungkin ada yang saya nggak masukkan yang sudah sama pertanyaannya di awal, yang penting pertanyaannya sudah terjawab kan? Hihi.

MENGHADAPI WRITER’S BLOCK

  1. Pernahkah Mbak Uti merasa mentok ide atau jenuh dalam menulis? Jika iya, gimana cara Mbak Uti mengatasinya? (@Kimol12)
  2. Saat menulis novel ini, pernahkah mbak mengalami Writer’s Stuck/Block?
    Bagaimana cara mbak menghadapi sindrom (ini namanya bener sindrom ga ya?) ini? @DEENAmond
  3. Mbak jalan-jalan nyari inspirasi gitu nggak pas kena writer block, terus misal lagi jalan nemu inspirasi nyatetnya gimana tuh, selalu sedia note kecil atau ditaruh dihape? @Umimarfa

Sampai saat ini untungnya belum pernah. Ide selalu ada dan kalau pun jenuh, ya break dulu. Cari kegiatan lain baru nulis lagi. Tapi kalau menulisnya sampai jenuh, berarti ada yang tidak beres. Mungkin jalan ceritanya tidak sesuai keinginan, karakternya tidak bertingkah laku sesuai cerita. Jadi kalau jenuh dicari alasannya kenapa.

Untuk yang kalau jalan terus dapat inspirasi, itu sering, saya biasanya punya dua-duanya. Kalau susah nulis ya pakai smartphone, kalau bisa nulis ya pake notes.

  1. Gimana caranya nampung ide-ide yang bermunculan di kepala hingga kemudian bisa jadi novel yang bagus? Dan apa yang mba Uti lakukan saat mood menulis menurun atau bahkan hilang? Pernah ngalamin gak sih mba? (@nunaalia)
  2. Bagi tips-tipsnya dong Mbak Uti, bagaimana caranya menuangkan ide yang sudah ada dalam bentuk sebuah tulisan yang berakhir sebuah novel? @Nadia48nafla

Yang pertama pasti tulis di notes / buku atau ketik di smartphone /laptop biar tidak hilang. Lalu mulai mengumpulkan semua ide yang bisa masuk sebagai buku. Bagi yang sempat mengintip Author Page saya di Facebook, saya pernah mengulasnya di link ini:

https://www.facebook.com/notes/kusumastuti/mengubah-libur-menjadi-novel/10153476144179083

Detail itu penting, jadi catat semua detail ide di kepala , jangan sampai hilang.

Jika mood menurun, karena capek, sakit, sibuk, dan alasan apa pun, biasanya ya kembalinya dengan baca lagi naskahnya, terusin lagi di tempat berhenti. Musik, musik, musik, bantu banget menjaga mood. Pilihan lagu yang salah bisa buyar moodnya.(Misalnya lagi nulis adegan happy, lagu yang didenger yang merintih-rintih.)

  1. Adakah semangat khusus yang mbak Uti miliki setiap menulis? (@aprlboanarges)

Semangat menuangkan kisah yang ada di kepala saya menjadi sesuatu yang bisa dimengerti pembaca.Sambil berharap, semoga pesannya sampai ke pembaca.

  1. Adakah ritual unik dan hanya mbak Uti yang tahu kalau sedang menulis suatu novel? Sesuatu yang khusus gitu atau mungkin hanya mbak Uti yang lakukan 😀 (@aprlboanarges)

Mencari playlist music yang sesuai dengan naskah yang ditulis.Tiap novel/ buku ada playlistnya sendiri dan biasanya saya masukkan ke dalam ceritanya juga. Lagu apa yang tokohnya dengar atau mainkan.

  1. Dalam menulis cerita, apakah Mbak Uti membuat outline dalam menulis Berlabuh di Lindoya dan selalu mengikuti outline yang dibuat itu? @dianbookshelf
  2. dalam buku #BerlabuhDiLindoya pernah mengalami perubahan alur cerita atau tidak? (@Visca_Apr)

Outlinenya kasar sekali.Alias garis besarnya saja.Perkembangan ceritanya nanti mengikuti perkembangan karakter.Karena sering kali setelah ditulis ide ceritanya jadi ganti karena tidak sesuai dengan perkembangan karakternya.

Ini juga termasuk novel ini.Perubahannya alur cerita terjadi mengikuti perkembangan karakternya.

TENTANG LINDOYA / NORWEGIA

  1. Kenapa Mba Uti milih settingan di Negara Norwegia, Pulau Lindoya? Keinginan sendiri atau emang ada pengalaman hidup disana? 😀
    Kalau keinginan sendiri, bagaimana cara Mba Uti menyelidiki tempat-tempat di Norwegia, Pulau Lindoya? Googlingkah? Atau open book? (@ramadhan_rae)
  2. Apakah kaka punya pengalaman pergi ke Lindoya sehingga memilih setting Lindoya untuk dijadikan novel ini? @evitta_mf
  3. Kenapa ambil setting di Lindoya kak? Kakak pernah kesana? Sepertinya Lindoya tempat yang indah~ jadi pengen kesana >.<@iannah212
  4. Apa sih yang menarik dari Lindoya sehingga mba Uti menjadikannya setting dari novel ini? (@nunaalia)
  5. Kenapa memilih setting di Norwegia kak?? (@chelseas_lovers)
  6. Se-spesial apa sih pulau Lindoya untuk kaka, hingga menjadikannya setting dalam Novel #BerlabuhDiLindoya ? @Isqi_Noor
  7. “Berlabuh di LindØya” kan mengambil setting di Norwegia. Nah, bagaimana cara anda mendalami settingan di Norwegia ini ? Apakah anda sudah pernah kesana sebelumnya? Atau hanya mencara ide-ide dari internet? @zazadwiNovel
  8. Bisakah anda bercerita bagaimana awal mulanya anda berfikir untuk mengambil settingan di Norwegia dalam “Berlabuh di LindØya” ini? @zazadwiNovel

Ya, saya pernah ke sana dan suka dengan gaya hidupnya. Tapiiii, walau pernah ke sana, tetap googling. Karena biarpun kita tinggal di suatu tempat pasti kita tidak tahu semuanya. Contoh lain ada adegan di kampus FTUI. Saya sendiri almamater FTUI, tetap saya googling, minta tolong teman motret-motret kampus, cari data detailnya.Karena bisa saja, jaman saya kuliah sudah beda dengan jaman sekarang.

Di sana saya melihat dua rumah di pinggir pulau Lindoeya. (ada gambarnya di mbak Dhani). Lalu berpikir, apa yang terjadi dengan penghuninya? Saling berantem atau bershabat?

  1. Pertama kali tau Lindoeya itu kapan kak? (@_loisninawati)

2012

  1. Halo Kak Uti. Begini, kan novelnya bersetting di Lindoya dan seingat saya Kak Uti bilang pernah ke sana. Lalu, hal apa saja dari kehidupan orang-orang di Lindoya yang menjadi perhatian khusus Kak Uti untuk dijadikan bahan referensi menulis novel ini? @safitriariyanti

Jonsok, budaya setempat dan tingkah laku mereka berinteraksi dengan sesama manusia. Dann, tidak ada mobil tapi banyak perahu. Baru pertama kali liat ada pom bensin khusus perahu. Unik sekali.

ideaboard

  1. Adakah makna tersirat di balik judul ‘Lindoya’? atau mungkin dari gambar kover dan pemilihan warnanya? @noeranggadila

Lindoeya itu nama pulau tempat tinggal tokohnya. Gambar covernya disesuaikan dengan lokasinya yang di pulau.Warnanya disesuaikan dengan cerita tokohnya yang suka melaut sampai dini hari.

  1. Mbak Uti bisa bahasa Norwegia tidak? Jika iya, berapa lama belajarnya atau adakah pengalaman menarik tentang mempelajari bahasa Norwegia? @MusdalifahYeaa

Mengerti beberapa karena mirip dengan Bahasa Jerman, Inggris, Belanda. (ini juga saya singgung di novel saya, ketika tokohnya merasa „kenal“ dengan kata-kata yang ditemukan di sana)

Saya belajar sedikit bahasa Norwegia karena saya pernah mengambil kuliah jarak jauh (online) tentang Viking‘s Saga. Jadi biar mengerti istilah-istilah yang dipakai dosennya. Lalu saya pakai untuk kepentingan novel ini, untuk kalimat-kalimat yang nantinya ada di novel.

  1. Kenapa memilih setting Lindoya? Padahal Lindoya adalah pulau terpencil, berarti hanya ada sedikit interaksi dengan tokoh-tokoh selain Sam dan Rasmus dong? @putripramaa

Justru di novel ini digambarkan, walaupun pulaunya terpencil, bukan berarti interaksi dengan tokoh lain berkurang.Sebaliknya, ada adegan Sam terganggu dengan Rasmus yang banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh lain yang dating ke pulau itu.

  1. Dapet tema cerita ini sebelum tau tempat Lindoya atau tema ini udah ada baru mbak kasih latarnya yaitu Lindoya ? @yutakaNoYuki

Eh? Jadi sama dong hihihi. Mungkin maksudnya tema duluan atau setting duluan ya?Yang belakangan, lihat, ke Lindoeya dulu, baru ada ide cerita.

PESAN/KESAN

  1. Apa keistimewaan novel ini dari novel-novel Mbak sebelumnya serta pesan moral apa sih yang Mbak Uti ingin sampaikan melalui novel ini? (@Kimol12)
  2. pesan apakah yang pengen disampaikan oleh kak uti dalam buku #BerlabuhDiLindoya ini? (@Visca_Apr)
  3. Apa pesan yang ingin coba mbak Uti sampaikan ke pembaca berlabih di Lindoya? Karena tempat Lindoya masih asing dalam benak pembaca. (@aprlboanarges)
  4. Apa harapan mbak untuk para pembaca Berlabuh di LindØya? Umimarfa
  5. Adakah pesan yang coba Kak Uti sampaikan lewat novel Berlabuh di Lindoya ini kepada para pembaca? @safitriariyanti
  6. Apa yang ingin Mba’ Uti sampaikan melalui novel Lindoya ini? Apa harapan buat para readers? @noeranggadila
  7. Apa yang ingin Mbak Uti sampaikan lewat novel Berlabuh di Lindoya? @dust_pain

Pesan moralnya adalah pemberdayaan perempuan.

Seperti sering terjadi di indonesia jika korbannya perempuan , si korban malah jadi korban dua kali. dihina lingkungan, dilecehkan, disalahkan, kalau masih sekolah dikeluarkan dari sekolah. ya tuhan udah jadi korban malah hidupnya suram. bukannya ditolong. jadi aku mau nunjukin perempuan bisa kok keluar dari masa lalu yang kelam, perempuan bisa mandiri. Perempuan itu lebih kuat dari yang ia pikir.

Life is how you make it. Kita mau terus jadi korban, bisa, kalau kita membiarkan diri kita terus jadi korban.Kita mau mandiri, bisa, kalau kita memandirikan diri kita sendiri.

quote5

  1. Apa yang paling berkesan selama proses penulisan novel Berlabuh di Lindoya? @evitta_mf
  2. Apa tantangan terbesar mbak Uti dalam menulis berlabuh di Lindoya ini? (@aprlboanarges)
  3. . Apa pas nulis novel ‘Berlabuh di Lindoya’ ini Mba Uti dapet kendala-kesusahan gitu? Kaya misalnya Mood nulisnya ilang seketika atau mood nempel dikasur kaya author-author kebanyakan gitu? Kkk (@ramadhan_rae)

Yang paling berkesan itu menuangkan budaya norwegia tanpa membuat pembaca bosan dan tantangannya , di proses penulisan adegan si tokoh utama jadi korban. Bagaimana menulisnya sehingga pesannya masuk tapi tidak berkesan brutal.

IDE/ ISNPIRASI / PENGALAMAN PRIBADI

  1. Yang pernah aku dengar (di kuis #askauthor lain) mba Uti emang pernah ke Lindoya ya? Pengalaman apa yang menarik/berkesan selama mba di sana? Pengalaman itu dimasukin juga gak ke dalam cerita ini? (@nunaalia)

Yang menarik itu memancing di laut utara, api unggun, manjat gedung opera dan naik feri. Semuanya masuk ke dalam novel.

  1. Inspirasi Mba Uti nulis novel ‘Berlabuh di Lindoya’ itu dari mana sih?Apa dari kisah sendiri atau kisah orang lain? (@ramadhan_rae)Apakah jika menulis novel, murni cerita yang tiba-tiba muncul atau ada sedikit pengalaman pribadi yang ikut masuk?? (@chelseas_lovers)
  2. Ada pengalaman pribadi yang dibagi dalam cerita ini? @dianbookshelf
  3. Ide untuk nulis novel Berlabuh Di Lindoya dari mana sih Mbak Uti? (@Kimol12)

Inspirasi idenya dari mana-mana. Ada adegan pribadi dan banyak adegan yang terjadi di orang lain dan lebih banyak lagi yang fiksi. Kemalangan yang menimpa Sam, tokoh utamanya, banyak ditemukan di Koran/media di sekitar kita.Mungkin kamu sendiri kenal ada yang jadi korban seperti Sam. Namun bagaimana dia bangkit lagi, itu idenya dari banyak hal.

KARAKTER / TOKOH dan SAM&RASMUS

  1. Gimana sih cara Mba Uti ngebuat dan nyusun karakter si para tokoh dalam cerita? Apa Mba Uti punya suplier karakter dari orang-orang disekitar atau semua karakter tokoh murni hasil imajinasinya Mba Uti? :v (@ramadhan_rae)
  2. Untuk menentukan karakter tokoh-tokoh dalam novel, biasanya mba Uti terinspirasi dari mana/siapa? Untuk karakter Sam & Rasmus boleh tahu gak siapa inspirasinya? (@nunaalia)
  3. Untuk karakter Sam dan Rasmus apakah anda terinspirasi dari seseorang? Kalau iya siapa? @zazadwi

Gabung-gabung dari karakter orang yang saya tahu dengan karakter imajinasi. Kehidupan nyata itu seperti sekolah terbuka. Banyak karakter manusia yang bisa jadi sumber karakter. Namun biar pas sama jalan cerita ya harus ditambahi imajinasi.

Untuk karakter Sam terlalu banyak gabungan tokohnya, susah disebut satu per satu namanya. Lebih mudah menyebut sumber inspirasi Rasmus, yaitu Nansen. Salah satu orang pertama yang berhasil mencapai kutub utara dan namanya terkenal dengan Pasport Nansen (passport bagi orang-orang tak bernegara)

Ini Link orangnya:

https://en.wikipedia.org/wiki/Fridtjof_Nansen

dan ini link passport Nansen:

https://en.wikipedia.org/wiki/Nansen_passport

11926033_10153145492772963_1706986331_o

  1. Ada gak karakter tokoh dalam novel-novel mba Uti yang bikin mba ‘Baper’? Siapa? (@nunaalia)
  2. Dari semua tokoh yang diciptakan, siapa tokoh yang paling menguras hati dan pikiran mba, alasannya? @sweet_tibot

Wah novel saya banyak. Semuanya saya sukai, kalau tidak, ya tidak bakal saya jadikan tokoh di novel saya.

  1. Bagian mana yang paling disukai, siapa tokoh favorit di novel ini? (@chelseas_lovers)
  2. Siapa tokoh dalam novel #BerlabihDiLindoya yang paling kaka suka dan kaka rasa memiliki karakter yang berbeda dari pada karakter-karakter dalam novel lainnya? @evitta_mf
  3. karakter favorit mbak uti dalam novel ini siapa? @naelyulya

Rasmus. Harus baca biar ngga spoiler, mengapa dia berbeda dari yang lain.

  1. bagaimana caranya menentukan nama tokoh biar pas sama buku yang dibuat? (@Visca_Apr)

Buka primbon, google, arti nama bayi, arti nama di Negara/bahasa tertentu. Semua tokoh di semua novel saya selalu punya arti nama yang sesuai dengan kharakternya.

  1. Siapa sih karakter novel (book boyfriend) yang sampai sekarang bikin mbak Uti susah move on? (@DEENAmond)

Wah banyak.Saya suka baca novel. Dirk Pitt, Poldark, salah duanya (abis lebih dari satu hihihi).

  1. Bagaimana cara membuat karakter dalam karya kita bisa hidup kak? Boleh bagi tipsnya dong, hehe @iannah212

Yang pertama deskripsi fisik, terus deskripsi tingkah laku. Hal-hal kecil, misalnya dia suka menggaruk-garuk kepala kalau bingung. Atau tidak suka makan sayur. Atau suaranya langsung tinggi kalau lagi kesal. Percakapan juga disesuaikan dengan karakter.

  1. Sam kan dari Indonesia, sedangkan Rasmus dari Norwegia. Nah pasti kan setiap negara memiliki budaya masing-masing, lalu bagaimana cara mbak Uti memadukan 2 kebudayaan berbeda itu, dan bagaimana cara mbak Uti mengetahui budaya yang ada di Norwegia? @MusdalifahYeaa

Perpaduan dua budaya ada di cerita novel sengaja saya tampilkan kontrasnya. Ini mencoba tidak membuat spoiler, misalnya apa yang dilakukan “petinggi” di Indonesia vs apa yang dilakukan keluarga kerajaan Norwegia. Atau tentang rasa aman, jika bermasalah lapor polisi, di sana vs di Indonesia. Maaf tidak bisa lebih detail karena takut spoiler.

Budaya di Norwegia diketahui dari melihat sendiri, ngobrol dengan orang sana / orang yang lama di sana, detailnya googling, baca referensi.

  1. Mengingat rumah Sam dan Rasmus ini terinspirasi dari dua rumah yang ada di Lindoya, apakah ide tentang tokoh utama (Sam) yang punya trauma masa lalu hingga memilih pindah ke Norwegia itu muncul begitu saja ketika kakak melihat rumah tersebut atau bagaimana? @safitriariyanti

Terima kasih atas perhatiannya ya. Kamu benar, idenya tidak muncul sekalian tapi bertahap. Jadi lihat rumah, mikir, apa yang terjadi antar tetangga. Terus melihat kapalnya Nansen (orang-orang pertama yang ke kutub utara), jadi berpikir, apa yang terjadi sampai ada orang yang mau tinggal di kutub utara. Ngga mungkin cuma karena iseng-iseng berhadiah. Lalu melihat bagaimana orang norwegia hidup, bertahap-tahap jadi ide cerita. (gambar terlampir)

  1. Kira-kira pernah nggak karakter tokoh di novel yg kak Uti tulis kebawa ke kehidupan nyata kakak? @RizAnNie88

Maksudnya saya jadi ikut-ikutan bertingkah laku seperti karakter yang saya tulis? Untungnya tidak. (Jadi ragu sendiri hahaha, mesti nanya orang rumah, jangan-jangan saya selama ini ganti personality)

  1. Sebenarnya apa yang diinginkan tokoh Sam dalam cerita ini? Apakah cuman ingin menjauh dari masa lalu dan mencari ketenangan di lindøya? @Anggitarav

Di cerita ini, Sam ingin menempuh hidup baru. Seperti apa hidup barunya, sendiri atau bersama orang lain, harap dibaca di novelnya ya.

  1. Naskah ini sepertinya (dari review-review-nya) lebih banyak terfokus pada dua tokoh, Sam dan Rasmus, kenapa memilih untuk lebih banyak memfokuskan pada mereka berdua? Kenapa tidak ada tokoh sampingan yang banyak? @putripramaa

Tokoh sampingannya lumayan banyak, ada tokoh dari masa lalu Sam, ada tokoh dari masa lalu Rasmus, ada tokoh dari masa kini Sam, ada tokoh dari masa kini Rasmus. Fokus juga menyangkut semua orang dari masa lalu dan masa kini.

KENDALA/ TANTANGAN

  1. Mbak Uti kan terkenal dengan tulisan yang kuat dengan latar setting tempat yang menarik, punya mimpi khusus gak untuk tulisan berikutnya agar anggapan tersebut tidak terus melekat dalam diri mbak? Karena pembaca akan bisa menebak setiap mbak kelaurin buku baru nanti ^^ (@aprlboanarges)

Terima kasih atas perhatiannya! Ya, saya mencoba di novel berikut tidak hanya settingnya yang kuat tapi juga cerita dan karakternya lebih wow lagi.

  1. Berapa lama proses penulisan serta kendala apa saja yang Mbak Uti hadapi selama menggarap novel ini? (@Kimol12)
  2. Berapa lama Mba Uti nulis buku ini? Lamakah?Atau sebentar? (@ramadhan_rae)

Menulisnya hanya 3 bulan tapi mencari referensinya 6 bulan.Proses editing juga nyaris setahun.

LAIN-LAIN

  1. Apa novel favorit mbak Uti? (@DEENAmond)

Whoa banyak sekali. Semua Hercule Poirot dari Agatha Christie, semua Clive Cussler, Poldrk.Banyak sekali.

  1. Jika di beri 2 pilihan, novel baru atau sekuel Berlabuh Di Lindoya. Mbak Uti pilih yang mana? Alasan? @Nadia48nafla

Novel baru. Move on. Yang sudah biarlah berlalu.

  1. Pas Berlabuh di LindØya udah jadi buku eskpresi mbak seperti “Nggak nyangka bisa bikin buku ini!” atau “Akhirnya selesai juga!”? @umimarfa

Yang terakhir, AKHIRNYAAAAAA.

  1. Ada nggak orang spesial yang ingin banget mbak kasih buku ini sebagai perayaan terbit buku ini atau sekedar untuk hadiah ulang tahun mereka, sahabat misalnya? @Umimarfa

Saya memberikan buku ini ke dua orang yang nama-namanya saya tuliskan di kolom Terima Kasih. Karena mereka yang menampung saya selama di Norwegia dan membawa saya melihat –lihat selama di sana.

  1. Berapa kali proses editing novel ini sampai akhirnya berhasil di terbitkan? @evitta_mf

7 x rewrite.

  1. Siapakah penulis novel idola kaka sehingga kaka memutuskan untuk menjadi penulis juga? @evitta_mf
  2. katanya tiap penulis punya muse/sumber inspirasi yang membuat mereka terus menulis. kalo Mbak Uti punya muse juga gak, yang membuat Mbak Uti gak pengin berhenti berkarya? @dust_pain

Enyd Blyton, Agatha Christie.

  1. Mbak Uti emang doyan genre Amore? kok kayaknya hampir semua buku-bukunya di lini Amore gitu ya. Ada keinginan untuk menulis genre lain? Thriller, mungkin?@dianbookshelf

Ini yang menentukan editornya. Buku apa masuk kategori apa. Setahu saya Amore lebih serius dari chicklit /metropop.

  1. Tiga (3) kata untuk novel ‘Berlabuh di Lind∅ya’? @MusdalifahYeaa

Survive, trust, love – bertahan (hidup), kepercayaan, cinta

  1. Kakak kan suka wine nih dan memasak, apa proyek kakak di novel selanjutnya berhubungan dengan wine atau chef gitu? @Agatha_AVM

Hahha, ketahuan ya..tema wine sudah dibahas di Blue Vino. Tema masak.. ehem ehem… bisa banget dibahas di novel selanjutnya.

  1. Mengapa kakak suka membuat/memakai photo quotes setiap kali ngetweet atau menjawab pertanyaan? Hehehe @Agatha_AVM

Because apicture is worth a thousand words.Photo mampu mewakili ribuan kata yang ngga muat ditulis semua di tweet.

  1. Kapan Kak Uti balik Indonesia dan mungkin mengadakan jumpa pers atau ngobrol bareng kakak secara langsung atau live serta photo selfie (tanda tangan juga sih)? Heheheee @Agatha_AVM

Wah itu dia, dompetnya menolak dibuka kalau melihat harga tiket pesawat. Tapi kalau sampai saya balik, pastiiiii saya akan beritahu.

  1. Gimana caranya Mba Uti untuk menanggapi para “yang tidak menyukai/haters” dari karya-karya Mba Uti ? @tasyaamanda95

Pertama-tama saya baca dulu kenapa mereka benci buku saya.Kalau kritiknya membangun bakal saya catat dan perhatikan.Malah jadi masukan untuk novel berikutnya.Misalnya, kurang deskripsi fisik tokohnya.Noted, di novel berikut tema ini bakal saya asah lagi. Atau „endingnya terburu-buru“, Noted, di novel berikutnya berusaha saya kembangkan endingnya.

Tapi kalau komentarnya cuma “ah bukunya kampungan” atau “ceritanya jelek” atau “masa begini sih ceritanya” atau „let me honest to u, aku emang agak picky buat buku dan buku mbak tidak menarik minatku.“ tanpa ada penjelasan apa-apa lagi, ya bagaimana saya mau belajar? Apanya yang kampungan?Di mana letak jeleknya?Ceritanya begini, tuh maksudnya bagaimana?Tidak menarik minat dia karena kenapa?Jadi kalau baca yang begini ya sudah, dilewatkan saja.Ya mau diapakan lagi? Buku kan selera ya, jadi mungkin buku saya tidak mampu memuaskan selera si pembaca itu dan itu sah-sah saja.

  1. Apakah Mba Uti suka ngga pernah baper sendiri kalau lagi bikin buku ? @tasyaamanda95

Ini maksudnya saya ikutan sedih kalau tokohnya sedih, ikutan happy kalau tokohnya happy?Ya pake banget.Kan pas nulis juga mengikuti mood si karakter. Hahaha jadi kayak split personality sayanya.

  1. Apa yang berbeda (spesial) dari buku mba uti dengan novel-novel karya penulis lainnya ? @tasyaamanda95

Wah ini hanya pembaca yang dapat menjawabnya.

  1. Kalau disuruh milih novelnya jadi best seller atau cetak ulang terus? @RizAnNie88

Cetak ulang terus hihihihi, sudah pernah jadi best seller soalnya, jadi cari yang baru.

  1. Di novel berlabuh di Lindoya diceritakan bahwa Sam bekerja di perusahaan pengeboran minyak di Norwegia. Apakah kak Uti punya pengalaman khusus dengan perusahaan pengeboran minyak?@RizAnNie88

Saya sendiri tidak, tapi karena saya kuliah (dan lulusan) teknik mesin, banyak sekali teman yang kerja di pengeboran minyak.Jadi prinsip alat masih bisa saya ketahui dari jaman kuliah, kalau udah ke detail, termasuk detail oil rig, bisa langsung ditanyakan ke pelaku-pelakunya langsung.Kalau bisa pakai photo biar yakin benar detailnya.

  1. Para pembaca banyak tertarik dengan judul yang unik dan jarang didengar, tapi setelah dibaca banyak yang merasa kecewa dengan isi ceritanya. Apakah novel ini juga begitu?Hanya judulnya saja yang menarik?Jika tidak, berikan alasan mengapa kita harus membaca dan merasa tidak menyesal untuk membelinya.@Anggitarav

Terima kasih sudah menganggap judul novel ini menarik. Judul novel ini diambil dari ceritanya.Berlabuh – karena memang tokoh-tokohnya memakai perahu sebagai sarana transportasi. Lindoeya – adalah nama tempatnya. Dengan demikian tidak mungkin saya ganti judulnya jadi “Berlabuh di Ancol” atau “Parkir di Lindoeya”

Jadi jangan takut, jangan ragu, jangan sungkan, tidak ada tipuan apa pun, di novel ini, benar-benar ada adegan berlabuh (kalau tidak berlabuh, perahunya ngga sampai-sampai ke tujuan dong, mengapung terus di laut) dan benar-benar terjadi di Lindoeya.

  1. Kenapa lebih memilih untuk membuat novel yang terdapat juga isi informatifnya daripada menekankan pada romance saja. Apa tidak takut kalah saing dengan novel-novel lainnya?@Anggitarav

Karena saya menganggap cerita apa pun (romance /detective/ fantasy/ apa saja) tidak akan lengkap tanpa informasi yang mampu menambah pengetahuan pembaca.

Tentang tidak takut kalah bersaing, wah saya tidak pernah berpikir untuk menyaingi siapa pun.Apakah tentang buku, karir di jenis pekerjaan lain atau pun dalam hidup. Saya yakin setiap buku mempunyai pembacanya masing-masing, seperti halnya saya yakin setiap orang punya jalan hidupnya sendiri-diri. Menurut saya, bukan kalah atau menang yang penting dalam hidup, karena sampai kapan pun kita ngotot berusaha, akan selalu ada orang yang lebih dari kita. Jadi buat apa fokus ke persaingan? Menurut saya yang penting adalah apa yang sudah kita berikan ke dunia ini, selama kita masih hidup. Karya apa yang sudah kita buat? Hal apa yang sudah kita lakukan? Kalau karya kita diterima orang lain dengan baik, itu hanya bonus. Terus berkarya, berbagi dengan sesama, berikan yang terbaik, itu saya rasa yang lebih hakiki dari sekedar kalah atau menang bersaing.

  1. Siapa satu penulis yang dijadikan panutan? Apakah tulisan mba uti terinspirasi dari tulisannya atau punya gaya penulisan tersendiri? @Anggitarav

Wah kalau cuma satu susah nyebutinnya karena banyak. Karenanya ngga mungkin terinspirasi hanya dari satu orang, dan pastinya gabung dengan gaya penulisan sendiri.

  1. Apakah mbak setuju jika salah satu karya mbak dibuatkan film?@naelyulya

Setujuuu, kalau tahu channelnya bilang-bilang ya.

  1. Sebagai penulis, masih ada tema yang belum mbk coba untuk tulis nggak ? Tema apa itu dan kenapa ? @yutakaNoYuki

BUANYAK.Salah satunya tema cinta.Cinta itu universal.Cinta orang tua anak, kakak adik, kekasih, suami istri, nenek cucu, buanyak laginya dan belum semuanya aku tulis.Jadi pelan-pelan mencoba menulis semua.

  1. dengan tema yang diangkat dari buku ‘Berlabuh di Lindoya’ dimana menceritakan usaha seorang wanita yang berkeinginan untuk membuang kenangan masa lalunya. Disini sang tokoh memilih jalan dengan cara kabur ke negara orang lain dan mengubah namanya. Nah, menurut kak Kusuma sendiri, adakah tips ampuh lainnya agar bisa membantu teman kita yang sedang berusaha move on supaya bisa hidup tenang kembali, melupakan masa lalunya? Apalagi teman-teman yang masih terbayang-bayang wajah sang mantan mungkin, yang baru putus dari pacarnya. @LiebeIs0503

Jual semua barang-barang dari mantannya hahaha, uangnya buat makan2 sama temen (Ngaku, pernah melakukan ini dan saya tulis di novel pertama saya, Alanakyla) Fokus ke hidup baru. Cari hobby baru. Cari kenalan baru. Cari kursus apa di kotamu, join. Intinya, lakukan hal positif. Karena jangan sampai rugi dua kali, udah bubar, eh jatuhnya ke hal negatif.

  1. Pada kenyataannya yang kita ketahui kan novel dengan genre romance itu sudah bertebaran dimana-mana dengan kemasan ide atau jalan cerita bahkan konflik-konflik yang disajikan di setiap novel itu berbeda. Nah, itu berarti saingan untuk menarik perhatian pembaca nih berat banget kak. Bagaimana siasat kakak menghadapinya. Tetap percaya diri saja dengan hasil karya kakak karena sudah yakin bahwa apa yang kakak tulis dalam buku ini juga memiliki something different yang bakal punya daya tarik sendiri yang membuat beda dari buku lainnya. Atau mungkin karena kakak merasa sudah banyak penggemar jadi yakin saja nih ngeluarin buku apa saja pasti dibeli deh oleh mereka entah apakah karyanya bagus atau tidaknya?@LiebeIs0503

Tidak semuanya. Pernah saya bahas di pertanyaan sebelumnya, saya sendiri tidak pernah berpikir buat bersaing dengan orang lain dalam hal apa pun. Bahkan ketika ikut lomba /kontes, yang ada di kepala saya, berikan yang terbaik. Fokus ke kelemahan & kekuaatan diri. Apalagi yang harus saya benahi, apalagi yang harus saya asah. Apakah hasilnya dianggap bagus atau jelek, itu saya serahkan ke orang lain yang menilai.

  1. Mbak Uti kan sudah punya banyak karya, terutama buku anak-anak. Nah, selama ini tiap ngirim naskah ke penerbit itu apakah selalu lancar? Boleh ceritain nggak kalau ada pengalaman terpahit waktu naskah Mbak Uti ditolak? @murniaya

Oh sama sekali bukan jaminan apakah karya saya sudah banyak atau belum. Jadi, tidak selalu lancar.Malah belum pernah sekali jadi.Paling pahit, naskah sudah diminta revisi jalan cerita tiga kali, disetujui terbit, dibuat kontrak, eh sampai sekarang tidak jadi terbit dengan alasan ganti managemen. Akhirnya naskah saya tarik dan sampai sekarang belum kepegang buat menjajakan naskah tadi ke penerbit lain. Gara2 kejadian itu, saya kapok bilang2 kalau naskah saya akan diterbitkan. Saya hanya mau pajang di sosmed kalau benar sudah tahu kapan akan beredar di pasaran.

  1. Misalnya nih, nanti Berlabuh di Lindoya diangkat ke layar lebar oleh PH dari Indonesia (aamiin!), Mbak Uti penginnya artis siapa buat meranin Sam dan Rasmus? @murniaya

Wahh ini biar pembaca saja yang menentukan. Aminnnnn semoga yang punya kenalan PH mau bantu doanya.

  1. Mbak Uti pilih ya, ini question of life ala Om Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih. 😉
  • tetap stay di Austria dan bisa produksi novel/buku dengan lancar sampe ratusan, trus beberapa karyanya dapet tawaran dijadikan film, atau…
  • balik pulang/stay di Indonesia bersama suami & anak dan bisa dekat dengan keluarga besar, tapi produksi tulisannya malah makin menurun. 😀 @murniaya

Yang pertama. Karena saya tipe yang tidak bisa diam. Harus melakukan sesuatu.Saya tidak mau kalau saya tua nanti, terus menyesal, yahhh kenapa dulu saya tidak melakukan hal itu.Namun bukan berarti saya melupakan keluarga dan teman di tanah air. Saya termasuk yang mendoakan si pencipta internet masuk surga, karena dengan bantuan internet , saya tetap “dekat” dengan keluarga.

  1. Bagamana reaksi mbak jika ada orang yg berkata kalau jalan cerita novel yg mbak buat mirip dengan novel orng lain yg tidak mbak kenal? @FebrinaAdriani

Ya paling saya jawab jujur, maaf saya belum pernah baca novel orang itu.

  1. Siapa penulis dalam negeri favorit Kak Uti yang sedikit banyak memengaruhi karir menulis kakak? @dhilayaumil

Berpikir keras, banyak yang saya suka tapi tidak ada yang sampai mempengaruhi saya.Maaf.

  1. Adakah part khusus dalam buku Berlabuh di Lindoya yang menjadi favorit Kak Uti? @dhilayaumil

Ketika anak-anak down syndrome menaiki gedung opera. Saya pernah di sana dan itu curam dan licin, lumayan takut tergelincir. Jadi bisa dibayangkan tantangannya.

  1. Adakah quote paling favorit di novel Berlabuh di Lindoya yang ingin sekali Kak Uti bagi ke para pembaca? @dhilayaumil

Wah, kalau pakai kata “paling” itu susah. Banyak soalnya. Hmmmm , berpikir keras….., ini: foto

quote4

  1. Cover buku Berlabuh di Lindoya ini artistik dan keren bgt! Kalau boleh tahu apakah Mbak Uti terlibat langsung dalam pembuatan dan pemilihan covernya? Kalau iya seberapa banyak keterlibatannya? @ruth_shiela

Biasanya editor mengajukan alternatif cover, lalu saya mengomentari plus minusnya. Berlabuh di Lindoeya termasuk cepat, dari 3 model, langsung saya pilih ini, karena ini yang paling cocok. Soal pemilihan judul novel pernah saya bahas di sini:

https://www.facebook.com/notes/kusumastuti/cover-novel-hal-penting-yang-sering-dilewatkan/10152048969684083

  1. Selain menulis, apa hobi Mbak Uti dan bagaimana membagi waktu antara hobi tsb dengan kegiatan menulis? @ruth_shiela

Mendengarkan musik, masak, berkebun, membuat hastakarya, melukis, baca buku. Kalau masak ya setiap hari hahaha, di sini tidak ada pembantu dan tidak ada warung, berkebun sibuknya di musim semi sampai awal musim panas, lalu di musim gugur. Musik jadi background menulis (tiap novel ada playlistnya sendiri hihihi).Baca buku sebelum tidur.Melukis agak terbengkalai karena tidak ada waktunya. Hastakarya tergantung mood dan ada acara apa yang perlu hiasan.

  1. Sebelumnya selamat ya kak karena beberapa karyanya ikut serta dalam festival buku di Frankfurt. Kalau boleh tahu bagaimana awalnya buku-buku kakak ini bisa terpilih untuk mewakili Indonesia di event buku internasional tersebut dan apa kesan-kesan serta harapan kakak terhadap event ini? @angels_rutherfo

Terima kasih banyak. Yang menentukan apakah buku bisa diikutsertakan itu penerbitnya dan IKAPI, jadi saya sendiri juga tidak tahu kriterianya. Prosesnya panjang, buku dipilih, buku diterjemahkan ke bahasa inggris atau jerman, disortir lagi apakah sesuai harapan, baru yang benar-benar okeh, lolos dibawa ke Frankfurt Book Fair.

Saya sendiri „mengumumkan“ kekagetan saya di sini:

masukfbf

Benar surprise, terutama untuk buku „Sukacita Kasih Natal“ yang terpilih untuk di-launching di sana. Jadi stand penerbit BIP pun dihiasi oleh gambar-gambar karakter dari buku saya.

fbf2

Di sana ya senang, ketemu banyak editor dan penerbit yang selama ini hanya saya ketahui dari email. Juga bangga melihat Indonesia makin dikenal dunia. Khususnya dari segi kuliner, orang rela antre 2 jam di restoran Indonesia ! (saya lampirkan foto2 di Frankfurt Book Fair) dan ada juga di link ini: http://utiauthor.weebly.com/frankfurt-book-fair-2015.html

  1. Sebagai penulis, pastinya ingin donk karyanya dibaca oleh banyak orang, termasuk juga pembaca yang ada di luar negeri. Nah apakah kakak punya cita-cita menjadi seorang penulis yang go to international? Menurut kakak, apa sih kendala seorang penulis yang ingin go to international? @angels_rutherfo

Jelas berharap dan kendalanya di cara menjual naskah di sana. Kebanyakan tidak membuka peluang penulis langsung mengirimkan naskahnya, hanya mau dari agent.Dan tingkat persaingannya juga tinggi, jadi seleksinya lebih ketat lagi.

  1. Mbk gimana caranya supaya novel kita bisa di terima oleh penerbit mayor? @widy4_w

Kirim naskah ke sana, dan tunggu beritanya. Kalau ditolak, revisi, kirim lagi. Terus sampai tembus atau pindah ke penerbit lain. Proses ini juga berlaku buat saya.

  1. Pilih satu, lebih berkesan Blue Vino atau Berlabuh di Lindoya? Alasannya? @rinicipta

Oha. Novel kan seperti anak ya. Bagaimana caranya memilih anak yang satu tanpa menyakiti anak yang lain?

  1. Bagian cerita mana yg membutuhkan mood dan feeling paling kuat? @p_ambangsari2

Adegan yang penuh emosi.Patah hati, marah, sedih, jatuh cinta.

REFERENSI BUKU

  1. Buku-buku fiksi dan nonfiksi aja yang menjadi referensi atau inspirasi dalam pembuatan buku Berlabuh di LindØya? Umimarfa
  2. Buku-buku apa yang jadi referensi untuk menulis lini Amore gini?@dianbookshelf

Sumber inspirasi tidak ada, karena takutnya malah jadi menjiplak ya.Sumber referensi, berita dan data hasil google.Di mana ada apa, detailnya seperti apa.

SETTING – OBSERVASI/RISET dll

  1. Kalau seandainya settingnya diganti di Indonesia, Mba’ Uti mau pilih dimana dan mengapa? @noeranggadila

Somewhere di Indonesia Timur.Area Maluku dan Papua.Karena alamnya masih asli, masih indah, belum banyak penduduk.Masih bisa jadi tempat untuk kontemplasi.

  1. Adakah salah satu tempat di Indonesia yang setidaknya punya karakteristik hampir sama dengan Lindoya??? (@chelseas_lovers)

Mengingat Indonesia mempunyai 17 ribu pulau lebih, saya yakin ada, walau saya belum pernah ke sana

  1. Mba uti, Observasi langsung kah ke lokasi yang ada dibuku ? @tasyaamanda95

75% iya, 25% hasil riset

  1. Apakah Kak Uti biasa melakukan riset terlebih dahulu sampai informasi yang kakak peroleh dirasa cukup barulah menggarap sebuah novel, atau riset dilakukan bersamaan dengan proses penggarapan novel? @safitriariyanti
  2. Apakah dalam membuat Novel #BerlabuhDiLindoya kaka melakukan riset ? berapa waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset itu ? @Isqi_Noor

Dua-duanya. Karena riset awal perlu buat bikin outline. Riset ketika menulis perlu untuk pengembangan karakter.

  1. Selain novel mba uti kan juga menulis cerita untuk anak2, apa mba juga melakukan riset dalam menulis cerita anak2 atau berimajinasi?@sweet_tibotse

Ya, selalu membuat riset untuk detail cerita. Imajinasi pasti ada, namanya buku anak tapi semua detail pasti ada risetnya. Kalau 100% imajinasi takutnya malah kayak ngibul.

  1. Menulis novel dengan setting diluar indonesia pasti sulit kan mbak? Apa yang mbak lakuin agar ide itu terus mengalir lancar? @Thia1498

Apakah settingnya di dalam atau di luar Indonesia buat saya sama menantangnya. Di novel “Denting Lara” lokasinya Pasar Rebo – Fatmawati – Depok, tetap saya harus riset kondisi di sana seperti apa sekarang. Di novel “Berlabuh di Lindoeya” ada adegan di Fakultas Teknik UI, almamater, tetap saya riset dulu.Jadi yang saya lakukan itu, riset, riset, riset, kalau semua detail lokasi sudah tahu, lebih mudah membuat adegan yang masuk akal.

  1. Cara mbak membuat setting yang anti mainstream ini gimana sih mbak? Diantara para pembaca mbak pasti belum pernah ada yang keluar negeri kan? @Thia1498

Tidak ada cara khusus, kebetulan saja saya pernah ketempat-tempat yang tidak biasa hahahha. Sekarang sudah jarang sekali (sejak punya anak), dulu pas masih single, memang suka blesek2 ke tempat-tempat baru.

  1. Apakah yang menjadi daya tarik utama novel dengan setting luar negeri? Termasuk novel “Berlabuh di Lindoeya” ? @Bintang_Ach

Saya harap yang menjadi daya tarik utama novel ini adalah jalan ceritanya ya. Soalnya kan ini bukan buku travel hihihi. Tapi saya kembalikan lagi ke pembaca, bagian apa yang paling menarik dari novel saya ini.

DUNIA BUKU dan TULIS MENULIS

  1. Gimana sih Mbak cara untuk menjadi seorang penulis andal? Bagi tipsnya dong Mbak, soalnya saya juga ingin sekali menjadi seorang penulis seperti Mbak Uti. (@Kimol12)
  2. Boleh bagi tips biar karya kita diterima sama penerbit kak? Makasiiih, hehe ^^ @iannah212

Mungkin terdengar membosankan tapi benar-benar: TETAPLAH MENULIS. Semakin banyak yang ditulis pasti semakin bagus hasilnya.Buku pertama saya dengan buku ke enambelas saya pasti beda sekali gaya nulisnya.

  1. Bagaimana sih perasaan mbak ketika memutuskan untuk menulis novel untuk pertama kalinya? Apa perasaan itu nggak berubah hingga sekarang bisa menerbitkan novel kedua? (@DEENAmond)

Ini sudah novel saya ke… sebentar menghitung dulu.. 7 dari 16 buku yang pernah saya terbitkan. (ini kompletnya http://utiauthor.weebly.com/books.html )

Dan ya, perasaannya masih sama. Masih sama happynya liat buku terbit. Apalagi baru-baru ini 2 novel saya diikutkan di Frankfurt Book Fair (Blue Vino dan Denting Lara), plus 1 buku anak saya di launching di Frankfurt Book Fair. Jadi ya.Masih tetap happy bisa nulis, happy masih bisa menerbitkan buku dan happy masih ada yang mau baca buku saya.

  1. Ada gak kak? Orang terdekat (saudara/sahabat/..)Yang sangat membantu dlm pembuatan novel ini? (@_loisninawati)

Jelas ada, apalagi kalau disuruh rewrite sama penerbit. Butuh second opinion.

  1. Bagaimana cara mengetahui tulisan kita itu bisa dibaca oleh yang lain, maksudnya, terkadang menurut kita bisa nyambung di kita, tapi waktu dibaca yang lain nggak ada rasanya. (@chelseas_lovers)

Tidak ada jalan lain selain memberikan naskah kita ke orang kepercayaan kita (teman, sahabat, kenalan, keluarga) dan meminta mereka membacanya. Saya sendiri tidak pernah sekali jadi. Maksudnya ketika ceritanya „selesai“ (pertama kali) saya kasih ke sahabat. Dia baca, dia komplen, saya revisi. Selesai kedua, kasih ke sahabat lain, dia komplen lagi. Revisi. Tiga kali baru kirim ke penerbit, dan yakinlah, editor pasti juga akan minta rewrite. Jadi bisa 7x rewrite baru jadi novel.

  1. Sebelum Berlabuh Di Lindoya terbit, Mbak Uti lebih sering membaca atau menulis? Ada waktu khususkah? @Nadia48nafla

Saya banyak dua-duanya karena novel ini buku ke 16 saya. Kalau mau liat apa lagi karya saya ada di :

http://utiauthor.weebly.com/

  1. Menurut Mbak Uti, tentang Dunia Buku di Indonesia sekarang bagaimana? @Nadia48nafla

Karena saya tergabung dibanyak komunitas penulis, saya memilih untuk tidak menjawab di ruang publik. Kalau mau ngobrol via japri silakan.

  1. Pernah kepikiran gak buat novel genre Islami? kalau ya settingnya dimana dan gimana intinya? @noeranggadila

Karena saya merasa ilmu agama saya belum mumpuni saya belum berani membuat novel yang bergenre agama.Namun mungkin suatu hari nanti, tema ini akan saya perdalam lagi.

  1. aku baru tau nih kalo Mbak Uti nulis buku anak2 juga. kira2 lebih susah mana nulis buku anak2 atau novel romance dewasa? kendalanya apa? @dust_pain

Jelas lebih susah buku anak-anak. Karena bahasanya harus sederhana, singkat tapi jalan ceritanya tetap harus seru, menantang dan cerdas.

  1. Apa Mbak Uti punya waktu khusus untuk menulis? lebih suka menulis di tempat sepi, atau di keramaian seperti di taman/cafe?apa yang spesial dari novel Berlabuh di Lindoya? @dust_pain

Tidak ada waktu khusus, dan saya lebih suka menulis di tempat sepi. Kalau di tempat ramai, adanya ngga nulis tapi malah memperhatikan tingkah laku orang lain, dan bisa mempengaruhi cerita di naskah yang lagi ditulis.

Yang spesial dari Berlabuh di Lindoeya banyak, tapi kalau dibahas di sini jadi spoiler. Makanya kamu harus baca bukunya.

  1. Bagaimana cara menentukan judul yang pas buat karya kita kak? Baik cerpen maupun novel. Bagaimana cara menarik pembaca dengan judul karya kita? @iannah212

Ini juga masalah terbesar.

Pembuatan judul buku atau novel biasanya diveto editor

Saya memberi sekitar 10 alternatif judul.

  1. Karya kakak kan udah lumayan banyak, bagaimana cara mempertahankan konsistensi kakak dalam menulis? @iannah212

Tetaplah belajar hal yang baru. Jangan mandeg di hal yang itu itu saja.

  1. Apakah Kak Uti punya jadwal dan tempat khusus untuk menulis sebuah novel? Atau di mana dan kapan pun sebuah ide muncul, Kak Uti biasa menuliskannya langsung? @safitriariyanti

Tidak ada jadwal atau tempat khusus. Biasanya kalau bosan menanti orang, bisa menulis daripada browsing2 yang tidak jelas.

  1. Kakak masih sulit nggak belajar mengenai sastra dan masih menemukan kesulitan nggak kak sampai harus melakukan riset atau menanyakan ke beberapa teman tentang cara penulisan kata ini yang baik dan benar?@Agatha_AVM

Emmmmm, dibilang sulit tidak, dibilang tidak sulit tidak juga. Setelah banyak belajar, dan ya pasti riset lah, baca-baca gaya buku-buku sastra Indonesia (belum sampai nanya teman sih), saya menemukan kalau saya bukan tipe yang berbunga-bunga kalimatnya. Mungkin karena karakter saya juga tidak seperti itu, jadi susah memaksa diri untuk menulis seperti itu. Tapi karena saya mengaku diri sebagai “lifelong learner”, tema ini bakal saya pelajari terus.

  1. Apa harapan kakak untuk dongeng anak-anak Indonesia ke depannya dan kesan kakak tentang Frankfurt Book Fair pertama kali juga Indonesia ikut serta? @Agatha_AVM

Harapannya buku (anak/dewasa /apa aja) dari Indonesia bisa lebih masuk ke pasar dunia. Karena tidak kalah dari segi kualitas.

Tentang Indonesia menjadi negara tamu di Frankfurt Book Fair, benar-benar bangga.Tidak mudah menjadi negara tamu, mungkin kesempatan sekali seumur hidup.Terutama yang paling sukses itu sisi kuliner Indonesia.Yang mau makan di sana harus antre 2 jam tapi tetap orang mengantre dengan sabar, demi makan makanan Indonesia.

  1. Jarang penulis yg menulis buku tentang anak-anak. Hal apa yg mendorong kakak untuk menulis buku tentang anak-anak?@RizAnNie88

Ini maksudnya jarang penulis novel dewasa menulis buku tentang anak-anak ya?

Mungkin karena saya bukan anak sastra, jadi saya menulis apa yang mau saya tulis saja. Tidak mengotakkan diri di box novel dewasa atau box buku anak.Biar imbang, biasanya setelah menulis novel dewasa, bikin buku anak. Saya menulis buku anak, karena memang punya anak, suka baca buku anak dan ingin memberikan variasi bacaan anak Indonesia dengan tema-tema yang selama ini jarang digali.

  1. Saat akan mengirimkan naskah pertama kali, mencari situs-situs semua penerbit atau sudah memiliki penerbit incaran? Dan apakah naskah pertama kali, langsung diterima begitu saja?@Anggitarav

Tentu mencari situs penerbit, dan tentu sudah mengincar penerbit tertentu.Naskah pertama saya, Alanakyla, ditolak banyak penerbit. Lalu saya rewrite lagi, kirim lagi, ditolak lagi. Rewrite lagi, kirim lagi, akhirnya ada yang mau menerbitkan di tahun 2008.

  1. Mbak uti lebih suka memakai sudut pandang orang pertama atau ke -2? alasan menggunakan sudut pandang itu kenapa? @naelyulya

Ketiga malah.Pernah nyoba semuanya, dan sudut pandang ketiga (saya sebagai “dalang”) lebih bisa menjangkau semua detail karakter.Di novel pertama, saya pakai orang pertama.Aku, aku, aku, tapi jadinya terbatas untuk penggambaran karakter lain. Kedua pernah nyoba tapi tidak puas. Jadinya ketiga.

  1. umur berapa mbak uti mulai belajar menulis? @naelyulya

Dari bisa nulis sendiri. Jaman dulu belum ada smartphone, jadi menulis surat ke eyang. Menulis surat ke pen friends (istilahnya). Waktu saya umur 10 tahun (kelas 5 SD) guru saya mengirim semua karya tulis anak didiknya ke majalah Kawanku. Eh puisi saya dimuat. Sejak itu rajin mengirim ke majalah anak dan sering dimuat juga. Wah makin semangat deh menulis.

  1. Sejauh ini setahuku Mbak Uti masih berkubang di genre anak dan romance dewasa. Pernahkah Mbak Uti kepikiran untuk banting setir nyoba nulis genre lainnya sebagai tantangan? @murniaya

Pasti pernah, bahkan pernah bikin buku „do it yourself“, namun waktunya yang teramat terbatas. Jadi masih bermain di dua genre ini dulu.

  1. Kalau beneran ada tantangan atau tawaran ke Mbak Uti untuk nulis genre lain, kira-kira Mbak Uti terima nggak? Kalau terima, mau nulis genre apa dan kenapa pilih yang itu? @murniaya

Terima, mengapa tidak. Saya terbuka buat semua hal, sejauh bukan genre politik.

  1. Bagaimana caranya mbak berfikir di luar ‘kotak’ (diluar batas) ketika sedang mencari ide cerita baru untuk menulis? @FebrinaAdriani

Open minded. Buka wawasan. Ketika ngobrol dengan orang lain, catat (dalam hati atau beneran di notes) hal2 menarik yang tidak biasa. Biasanya adegan2 nyentrik di novel2 saya berasal dari kisah nyata orang lain.

  1. Menurut mbak, apakah SMA kelas 1 (14tahun) sepertiku telat untuk memulai menjadi blogger keren dan penulis hebat? @FebrinaAdriani

Bahkan kalau kamu sudah 41 tahun (14 dibalik) atau 94 tahun, tidak ada kata telat untuk memulai apa pun. Saya sendiri kerja jadi insinyur mesin dulu sebelum terjun ke dunia penulisan. Jadi saya juga bukan orang yang dari awal kerja di satu bidang saja. Lebih sering kita sendiri yang membatasi hidup kita. Life is how you make it. Kalau kamu mau mulai sesuatu, mulai lah.

  1. Menulis pasti membutuhkan kesabaran yg ekstra. Jadi, bagaimana caranya mbak menumbuhkan rasa sabar itu? (Jujur, saya orng yg tidak sabaran sehingga semua novel yg tak terselesaikan bertebaran di laptop. Hehehe :D) @FebrinaAdriani

Wah ini, semua yang kenal saya tahu kalau saya teramat sangat tidak sabaran.Sadar diri kalau perlu beli kumpulan sabar. (kalau tahu ada yang jual bilang ya). Caranya, buat dua novel.Jadi kalau udah bosen di yang pertama, terusin yang lainnya, kalau bosen di yang lain, balik lagi ke yang pertama.Itu salah satu sebab saya menulis buku anak dan novel dewasa.Kalau jenuh nulis buku anak, buat novel, jenuh novel, tulis buku anak.Jadi otaknya refreshing.

  1. Ada yang bilang, menulis cerita dengan latar suatu tempat agak susah-susah gampang. Penulis kadang mendapat tantangan agar deskripsi latar yang ia kemukakan dibaca tidak seperti membaca ‘hasil googling’. Nah, bagaimana dengan Kak Uti sendiri? Bagaimana kiat khususnya agar pembaca bisa benar-benar merasakan suasana yang digambarkan, merasa seperti ada di tempat dan suasana yang digambarkan di buku @dhilayaumil

Perhatikan detail yang tidak biasa. Pernah saya ulas di sini:

https://www.facebook.com/notes/kusumastuti/mengubah-libur-menjadi-novel/10153476144179083

  1. Boleh dishare ga apa pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan Mbak Uti selama menjadi penulis? @ruth_shiela

Menyenangkan: kalau pembaca suka ceritaku, menangkap pesan yang disampaikan. Karena menulis kan pekerjaan sepi, semua ide hanya di kepala sendiri, jadi kalau ada orang yang mengapresiasi ide itu, ya happy.

Tidak menyenangkan: Kalau ditolak penerbit hahahha.

  1. Mbak Uti kan sudah menulis banyak genre buku, nah kalau disuruh memilih paling senang itu menulis genre buku apa sih dan apa alasannya? @ruth_shiela

Semuanya sama saja senangnya, jadi tidak ada pilihan khusus.

  1. Apa yang memotivasi kakak untuk menjadi seorang penulis dan bagaimana tanggapan orang-orang terdekat kakak? @angels_rutherfo

Ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan yang sayang disimpan sendiri.Karena itu tulisan saya dimulai dari artikel-artikel non fiksi.

Tanggapannya tidak mendukung hahaha.Karena latar belakang pendidikan saya insinyur mesin, (bukan hendak menyombongkan diri) termasuk yang berprestasi dan termasuk sukses berkarir international.Tentu saja ketika endingnya malah jadi penulis, hal ini banyak memicu omongan miring dari banyak teman atau anggota keluarga.Bahkan salah satu dosen saya di universitas jelas-jelas menyayangkan pilihan saya.Walau banyak yang sekarang memaklumi pilihan saya, sampai sekarang masih ada yang tidak setuju, tapi yah, mau apa lagi. Life is like that.

Karenanya saya sangat menghargai semua dukungan dan bantuan semua orang.Karena saya tahu, support itu tidak dating dengan sendirinya.

  1. Apa yang menjadi dasar utama mbak menjadi penulis novel? @Rinitaa_1976

Terlalu banyak ide cerita di kepala yang harus saya tulis, kalau tidak kepala saya penuh.

  1. Gimana pandangan mbak tentang dunia kepenulisan di Indonesia saat ini? @rinicipta

Lebih baik para pembaca yang menjawab ini.

  1. Bagi mbak Uti sebagai seorang penulis, reviewer itu apa? Sahabat? Musuh? Juri yang bikin sebal, atau apa? @Rany_Dwi004

Antara sahabat dan “ini maunya apa?” Reviewer yang baik selalu menulis alasan mengapa ia suka atau tidak suka cerita saya dan ini membantu saya belajar, memperbaiki kekurangan, mengasah kelebihan untuk karya saya berikut. Jadi mereka saya anggap sahabat.

Reviewer yang kurang baik, hanya menulis, „buku ini jelek“ atau setipe dengan itu. Nah kalau begini, saya biasanya „lho jadi maunya apa? Jelek di mananya?“

  1. Siapa sih orang yg paling berpengaruh dalam hidup mbak Uti dan memotivasi untuk jadi penulis? @Lenny66677291

Tidak ada.

PENUTUP

Dari Mbak Uti:

Terima kasih buat Mbak Dhani yang tiada lelah mengkoordinir semua peserta dan terima kasih banyak atas semuaaaaa pertanyaan yang masuk. Terima kasih atas waktu yang diberikan, mudah-mudahan puas dengan jawabannya. Kalau ada yang sudah baca novel-novel saya harap beri komentar ya. Selalu senang mendengar tanggapan pembaca agar saya dapat memperbaiki diri ke depannya. Terima kasih!

Dari saya:

Terima kasih banyak juga Mbak Uti telah mempercayakan saya ikut blogtournya, terima kasih sudah menjawab semua pertanyaan dengan sabar. Terima kasih kepada semua peserta #AskAuthor kalian keren-keren semua.

Dan, hasil diskusi dengan Mbak Uti, penanya terbaik adalah….

@FebrinaAdriani

Selamat, kamu berhak mendapatkan paket buku dari Gramedia!!! Komen postingan ini dengan menyertakan biodata diri dan alamat lengkap yah!

Buat yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Kalian bisa mengikuti giveaway terakhir di blog Mbak Sisca. Semangat!

blogtour00main

Advertisements

4 thoughts on “Jawaban #AskAuthor Berlabuh di Lindoya Bersama K. Fischer

  1. adrianifebrina says:

    alhamdulillah ^^ makasih banyak mbak ^^
    Nama: Adriani Febrina
    no telp: 082360527167
    alamat: Jl. Pase, No.35B, gampong keude aceh, kec. banda sakti, Kota lhokseumawe, Aceh (NAD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s